Eksplorasi laut dalam berhasil mengidentifikasi salah satu kuburan paus terbesar dan terdalam di kawasan terpencil tenggara Samudra Hindia.

Penemuan ini mencakup ratusan fosil yang tersebar di wilayah luas pada kedalaman puluhan ribu meter di bawah permukaan laut.

>>> Promo PSM Alfamart 17 18 19 Juni 2026: Diskon Deterjen hingga Susu

Sisa-sisa mamalia laut yang mati atau sekarat tersebut hanyut dan terkumpul di area yang membentang sekitar 1.200 kilometer.

Keberadaan kerangka modern yang bercampur dengan tulang-tulang tertua mengindikasikan bahwa titik ini telah menjadi lokasi pengendapan selama sedikitnya 5 juta tahun.

Mayoritas kerangka yang ditemukan berasal dari spesies paus paruh yang memiliki karakteristik tengkorak meruncing menyerupai moncong lumba-lumba.

Spesies ini dikenal sebagai penyelam dalam yang jarang menghabiskan waktu di permukaan, sehingga informasi mengenai kebiasaan mereka masih sangat terbatas.

Beberapa bangkai terdeteksi berada dalam kondisi yang relatif baru karena masih dikerumuni oleh hewan pemakan bangkai.

Fenomena jatuhnya bangkai paus ke dasar laut atau whale falls ini menjadi penyedia nutrisi bagi ekosistem laut dalam, termasuk cacing pemakan tulang.

Keberadaan akumulasi tulang yang berlangsung jutaan tahun ini tidak sepenuhnya mengejutkan karena wilayah tersebut merupakan habitat populer bagi paus paruh.

Selain itu, beberapa fosil tengkorak sejenis juga pernah ditemukan di area sekitar sebelumnya.

Para ahli paleontologi mendeteksi kuburan massal ini di Zona Fraktur Diamantina, sebuah struktur punggung bukit dan palung laut di barat daya Australia.

Kawasan yang terbentuk sekitar 30 hingga 40 juta tahun lalu saat pemisahan benua Australia dan Antartika ini memiliki kedalaman berkisar antara 5.000 hingga 7.000 meter.

"Meskipun ini adalah kuburan paus yang benar-benar masif, mencapainya sangatlah sulit karena kedalamannya ekstrem," kata salah satu penulis studi, Peng Zhou, peneliti di Institut Sains dan Teknik Laut Dalam pada Chinese Academy of Sciences.