Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,5% membuat banyak bank, terutama yang bermodal inti kecil, kewalahan menjaga stabilitas bisnis.

Bank-bank dalam Kelompok Bank Modal Inti 1 (KBMI 1) dinilai paling tertekan dalam persaingan industri yang semakin ketat.

>>> Ilmuwan Temukan Kerangka Kerja Gravitasi Kuantum Terkait Gaya Kelima

Dua Opsi: Tambah Modal atau Merger

Guru besar ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan bahwa di tengah BI Rate yang tinggi, bank kecil hanya punya dua pilihan terbaik: menambah modal atau melakukan merger.

Menurut Rahma, ketika BI Rate naik, nasabah kelas atas cenderung memindahkan dana simpanannya ke bank besar karena faktor keamanan dan imbal hasil yang lebih tinggi.

"Nasabah yang mengejar imbal hasil tinggi akan melirik instrumen moneter seperti SRBI yang kuponnya ikut terkerek, atau produk wealth management bank raksasa," ujar Rahma.

Akibatnya, bank KBMI 1 terpaksa menaikkan bunga simpanan agar nasabah tidak pergi. Namun, banyak bank kecil tidak memiliki modal cukup untuk itu.

>>> KAI Tambah Kereta Ekonomi Kerakyatan untuk Arus Balik Lebaran 2026

Kenaikan bunga simpanan juga berdampak pada biaya dana (cost of fund) yang lebih tinggi. Saat ini, sebagian besar pendanaan bank KBMI 1 didominasi deposito.

"Menghadapi era higher-for-longer ini, bank KBMI 1 tidak bisa lagi mengandalkan cara konvensional 'bakar duit' lewat bunga deposito," tegas Rahma.

Ia menambahkan, bank KBMI 1 yang masih bisa bersaing adalah yang memiliki spesialisasi bisnis kuat.

>>> Link Streaming Classroom of the Elite S4 Episode 10 Sub Indo Resmi Dirilis

Sementara yang strukturnya generik dan modal pas-pasan berisiko tergilas efisiensi bank digital dan bank raksasa.