Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat Aisyiyah mengusulkan pembaruan panduan penanganan darurat bencana. Tujuannya untuk mengoptimalkan pemenuhan gizi ibu dan anak.

Ketua LLHPB PP Aisyiyah Rahmawati Husein menekankan pentingnya memastikan kebutuhan balita saat darurat dan pemulihan.

in1

>>> Spanyol Hancurkan Arab Saudi 4-0 di Piala Dunia 2026

Ia mencontohkan kondisi di Tamiang yang masih dalam masa transisi darurat setelah enam bulan.

Rahmawati yang juga Anggota Unsur Pengarah BNPB menjelaskan bahwa gizi anak pada masa pemulihan sangat dipengaruhi penanganan sejak fase darurat.

Pemenuhan gizi harus menjadi perhatian sejak awal respons kemanusiaan.

Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis telah memiliki Panduan Operasional Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak dalam Situasi Darurat tahun 2014 dan 2019.

Namun, berdasarkan pengalaman lapangan, panduan itu perlu disempurnakan.

>>> Spanyol Hancurkan Arab Saudi 4-0, Lamine Yamal Samai Rekor Pele

Salah satu poin yang perlu diperkuat adalah kualitas bantuan pangan. Rahmawati menilai distribusi bantuan tidak cukup hanya fokus pada kalori, tetapi harus memperhatikan kandungan gizi anak.

Di lapangan masih sering ditemukan bantuan berupa mi instan, biskuit, dan kental manis. Rahmawati menekankan pentingnya membangun kesadaran gizi dalam kegiatan tanggap darurat.

Selain pangan, ia menekankan pelibatan perempuan dan komunitas lokal dalam pemulihan karena mereka lebih memahami sumber pangan lokal.

Ketua MDMC Budi Setiawan menilai aspek gizi kelompok rentan perlu diintegrasikan ke dalam pengelolaan dapur umum.

Dapur umum harus memastikan kebutuhan gizi anak, ibu hamil, dan ibu menyusui terpenuhi.

>>> Lamine Yamal Masuk Daftar 10 Pencetak Gol Termuda Piala Dunia

Budi menambahkan bahwa makanan instan perlu dihentikan pada masa pemulihan. Setiap dapur umum harus memiliki panduan jelas mengenai kebutuhan gizi kelompok rentan.