Sebaliknya, di kampus daerah kecil, untuk membuka situs jurnal ilmiah saja mutarnya setengah mati karena jaringan internet timbul tenggelam.

>>> Daihatsu Gelar Acara Komunitas untuk Bangun Loyalitas Konsumen

in1

Banyak mahasiswa daerah terpaksa mengerjakan tugas akhir bermodalkan ponsel pintar dengan memori hampir penuh, atau harus mengantre di warnet kecamatan demi mengetik tugas kelompok.

Ketika mereka diwajibkan bersaing di pasar kerja yang sama setelah lulus, betapa timpangnya garis syukuran yang akan terjadi.

Tragisnya, ketika mahasiswa kampus daerah mencoba menggunakan AI, mereka sering terjebak menjadi korban, bukan pemanfaat cerdas.

Karena minim literasi dan bimbingan institusi, mereka menggunakan ChatGPT secara mentah-mentah, menyalin seluruh jawaban tanpa sensor, tanpa verifikasi data, yang berujung pada plagiarisme massal di hadapan dosen penguji.

Mereka dicap malas dan bodoh, padahal sistemlah yang membiarkan mereka berjalan dalam kegelapan tanpa peta panduan teknologi yang memadai.

Mendesak Pemerataan Fasilitas dan Pelatihan

Meributkan moralitas penggunaan AI tanpa membenahi ketimpangan infrastruktur digital antardaerah adalah kemunafikan akademis.

Kampus urban dan pengambil kebijakan harus sadar bahwa AI tidak boleh menjadi komoditas eksklusif yang memperlebar kasta sosial antarmahasiswa.

Selama mahasiswa di daerah masih harus naik ke atap gedung atau pergi ke bukit demi mencari sinyal internet, jargon digitalisasi pendidikan dan kesetaraan peluang hanyalah dongeng pengantar tidur.

Berhentilah memonopoli diskusi AI hanya pada tataran teori etika yang melangit. Urgent saat ini adalah menuntut pemerataan fasilitas dan pelatihan literasi teknologi yang membumi hingga ke pelosok daerah.

>>> Pelatih Spanyol Larang Publik Bandingkan Lamine Yamal dengan Messi

Kepintaran sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa canggih mahasiswa kota menggunakan robot, melainkan dari seberapa adil negara memberikan senjata teknologi yang sama kepada anak-anak daerah untuk ikut mengubah nasib mereka.