Pemanas rumah bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga tanggung jawab lingkungan dan biaya. Sejak Perjanjian Paris 2015, dunia didorong untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, termasuk sistem pemanas.

Peneliti dari Universitas Teknik Munich menguji 13 sistem pemanas residensial. Mereka menilai biaya pemasangan, konsumsi energi, biaya perawatan, dan emisi CO2.

in1

>>> Pemkab Agam Subsidi Bahan Pangan Lewat Gerakan Pangan Murah

Sistem yang diuji meliputi boiler gas, boiler pelet, boiler gasifikasi kayu, pompa panas udara-ke-air, pompa panas udara-ke-udara dengan fotovoltaik, dan pompa panas geothermal dengan penyimpanan es dan kolektor surya.

Pompa Panas dan Panel Surya Jadi Pemenang

Hasilnya, kombinasi pompa panas udara-ke-air dan panel fotovoltaik menjadi yang paling unggul. Sistem ini menawarkan penghematan biaya dan dampak lingkungan rendah.

>>> Penipuan terhadap Warga Asing di Korsel Melonjak Hampir Empat Kali Lipat

Sistem pemanas biomassa juga menonjol karena emisi karbonnya rendah. Sebaliknya, pemanas gas tradisional menjadi yang terburuk dalam hal emisi gas rumah kaca.

Menurut peneliti, pasokan listrik menyumbang lebih dari 90% dampak lingkungan pompa panas selama penggunaan. Dengan menambahkan panel surya, beban lingkungan dapat dikurangi secara signifikan.

>>> Bandara Minangkabau Target Jadi Hub Penerbangan, Tak Mau Kalah dari Changi dan KLIA

Boiler gasifikasi kayu juga termasuk solusi pemanas yang efisien secara ekologis. Kesimpulannya, pompa panas dengan panel surya adalah pilihan terbaik untuk penghematan dan lingkungan.