Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas
Gelombang kementerian dan lembaga (K/L) mengajukan tambahan anggaran dalam pembahasan RAPBN 2027 menjadi sorotan tajam.
Situasi ini dinilai bukan sekadar masalah teknis, melainkan akibat kekeliruan desain awal perencanaan APBN.
>>> 5.000 Orang Ramaikan Jalan Sehat Sarungan di Kota Tangerang
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, mengungkapkan bahwa penyusunan pagu anggaran sejak awal lebih disetir oleh program prioritas pemerintah pusat.
Akibatnya, alokasi dana untuk kebutuhan dasar masing-masing kementerian terpinggirkan.
"Sejak awal, pembuatan pagu APBN tidak berdasarkan pada kebutuhan masing-masing K/L melainkan kebutuhan program prioritas presiden," ujar Nailul Huda kepada Redaksi, Minggu (21/6).
Program MBG Menyedot Ruang Fiskal
Nailul menjelaskan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi jangkar utama anggaran. Karena pendanaan proyek strategis itu dikunci di awal, ruang fiskal bagi instansi lain menjadi sangat terbatas.
"Program MBG ditetapkan terlebih dahulu, baru anggaran K/L disusun. Anggaran dan program tiap K/L akhirnya dipaksakan masuk ke agenda Presiden," tambah Nailul.
Dampak dari pemaksaan agenda tunggal ini baru terasa ketika K/L dituntut menjalankan fungsi pelayanan publik secara ideal.
>>> Menbud Fadli Zon Kunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi
Kekurangan dana di tengah jalan memaksa mereka mengajukan tambahan ke parlemen.
Nailul menyayangkan ketimpangan ini karena membuat beberapa instansi kehilangan ruang gerak dalam mengeksekusi mandat sektoral. Bahkan, beberapa K/L terkesan tidak memiliki program kerja yang berjalan efektif.
Di sisi lain, proses politik di Senayan tetap berjalan.
Komisi VIII DPR RI telah merestui pagu indikatif dan menampung usulan dana tambahan dari mitra strategis, seperti Kementerian Agama, Kementerian Sosial, dan BNPB.
Kementerian Keuangan juga mematok pagu indikatif tahun anggaran 2027 internal sebesar Rp49,8 triliun. Anggaran itu untuk menopang fungsi tata kelola perbendaharaan dan pengelolaan fiskal negara.
>>> CIMB Niaga Genjot Transaksi Digital Gen Z Lewat Aplikasi OCTO
Kritik dari CELIOS menjadi alarm penting bahwa simplifikasi anggaran demi program populis berisiko mengorbankan sektor pelayanan publik mendasar lainnya.
Update Terbaru
Pemprov Sultra Bakal Lelang Kendaraan Dinas, Ini Jadwal dan Cara Ikut
Minggu / 21-06-2026, 15:16 WIB
Ekonom CELIOS: Efisiensi Anggaran Tebang Pilih, Dana Transfer Dipangkas Bikin Daerah Mandul
Minggu / 21-06-2026, 15:16 WIB
PT Esa Medika Mandiri Siap IPO, Target Dana Rp269 Miliar untuk Ekspansi
Minggu / 21-06-2026, 15:16 WIB
Samsung Resmi Rilis One UI 8.5, Ini Daftar Galaxy S, A, Z Fold, dan Tab yang Kebagian Pembaruan
Minggu / 21-06-2026, 15:12 WIB
3 Rekomendasi Sepatu Lari Brodo untuk Pemula hingga Profesional
Minggu / 21-06-2026, 15:12 WIB
Dokter Spesialis Kulit Sarankan Cuci Bra Rutin demi Jaga Kesehatan Kulit
Minggu / 21-06-2026, 15:12 WIB
6 Negara Ini Pernah Jadi Bagian Indonesia, Begini Nasibnya Kini
Minggu / 21-06-2026, 15:11 WIB
Spanyol Diyakini Lolos Fase Grup Piala Dunia 2026 Meski Start Kurang Mulus
Minggu / 21-06-2026, 15:11 WIB
Refal Hady dan Aisyah Aqilah Kembali Jadi Sorotan, Isu Kedekatan Makin Ramai Dibahas
Minggu / 21-06-2026, 15:09 WIB
Dekranasda Jakut Beri Diskon hingga 80 Persen di Festival Jakarta Great Sale
Minggu / 21-06-2026, 15:09 WIB
Baznas RI Kaji Penguatan Asnaf Riqab untuk Respons Tantangan Sosial Modern
Minggu / 21-06-2026, 15:08 WIB
Rockstar Games Buka Pre-Order GTA 6 Mulai 25 Juni 2026
Minggu / 21-06-2026, 15:08 WIB
Daihatsu Gelar Kumpul Sahabat 2026 di Alun-Alun Depok
Minggu / 21-06-2026, 15:08 WIB
Penerimaan Pajak Neto Tembus Rp940,31 Triliun per Pertengahan Juni 2026
Minggu / 21-06-2026, 15:08 WIB






