Pada kisaran harga IPO, valuasi P/E berada di level 10 hingga 12 kali terhadap laba 2025, yang dinilai konservatif.

Strategi JELI di Sektor Konsumer

JELI merupakan produsen makanan dan minuman dengan jenama INACO yang memproduksi nata de coco, jelly, dan gummy.

in1

>>> Diduga Tertidur Pulas, Dua Remaja Garut Tewas dalam Kebakaran Rumah

Perusahaan ini menawarkan maksimal 350 juta saham atau 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Harga penawaran awal JELI berkisar Rp 900 hingga Rp 1.120 per saham, berpotensi meraup dana segar hingga Rp 392 miliar.

Dana hasil IPO akan digunakan untuk ekspansi penambahan mesin produksi baru.

JELI didukung empat fasilitas produksi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi, serta telah menjangkau pasar ekspor.

Perusahaan juga mengakuisisi PT Supra Natami Utama pada 2025 sebagai langkah integrasi vertikal.

Hendry menambahkan bahwa JELI sedang merapikan rantai pasok dari hulu hingga energi pabrik sebelum melantai. Ini menjadi sinyal bahwa risiko volatilitas harga bahan baku sedang dimitigasi secara aktif.

Dari sisi valuasi, JELI diperdagangkan pada level premium sekitar 31 hingga 38 kali P/E, sejalan dengan lonjakan laba dari Rp 1,4 miliar pada 2023 menjadi Rp 39,4 miliar pada 2025.

Kedua emiten didukung oleh Sucor Sekuritas sebagai penjamin emisi efek. Pemilik lama JELI akan menguasai sekitar 74% saham, sedangkan pemilik PRDL mempertahankan sekitar 70% saham.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menyampaikan bahwa PRDL dan JELI memiliki prospek menarik karena beroperasi di sektor kesehatan dan konsumer yang didukung konsumsi domestik.

Namun, daya tarik keduanya tetap bergantung pada fundamental, pertumbuhan laba, posisi kompetitif, serta valuasi yang ditawarkan.

Azis mengingatkan investor untuk memperhatikan valuasi dibanding perusahaan sejenis, pertumbuhan kinerja, penggunaan dana IPO, kualitas manajemen, serta prospek industri.

>>> Emiten Ritel Gencar Promosi Jaga Trafik Pengunjung

Free float yang rendah dapat meningkatkan volatilitas harga, sementara kondisi pasar dan sentimen saat IPO akan menentukan performa saham jangka pendek.