Indonesia dan Italia mengambil langkah strategis dalam memperkuat industri kapal angkatan laut domestik.

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di sela pameran Eurosatory 2026 di Paris, Prancis.

in1

>>> Jadwal Program ANTV Selasa, 22 Juni 2026: Antara Cinta dan Dusta, Doriyaann, Series Thanak, Sayali, Vasudha, Teri Meri Ada Mega Bollywood Plus Link

MoU tersebut melibatkan Republikorp, perusahaan induk industri pertahanan swasta nasional, melalui anak usahanya PT Republik Palindo Internasional (RPAL).

Mereka berkolaborasi dengan Fincantieri, raksasa galangan kapal asal Italia.

Nota kesepahaman ditandatangani oleh General Manager Fincantieri Naval Vessels Division, Eugenio Santagata, bersama Chairman dan Founder REPUBLIKORP Group, Norman Joesoef.

Kesepakatan ini menjadi landasan pembentukan joint venture untuk memperkuat industri perkapalan nasional.

Komitmen Jangka Panjang

CEO dan Managing Director Fincantieri, Pierroberto Folgiero, menyatakan bahwa kerja sama ini memperkuat kemitraan jangka panjang dengan Indonesia yang telah terjalin sebelumnya melalui Angkatan Laut RI.

"Berbekal pengalaman kami dalam pembangunan kapal angkatan laut dan integrasi sistem yang kompleks, kami berkomitmen mendukung pengembangan kemampuan industri nasional serta berkontribusi pada terciptanya ekosistem maritim yang lebih tangguh," ujarnya dalam siaran pers, Minggu (21/6/2026).

>>> Eloy Room Catat Rekor 15 Penyelamatan di Piala Dunia 2026

Chairman REPUBLIKORP Group, Norman Joesoef, menilai kemitraan ini membuktikan ambisi perusahaan mendorong kemandirian pertahanan Indonesia melalui sinergi internasional yang seimbang.

"Bersama Fincantieri, kami melihat peluang untuk memperkuat kemampuan maritim nasional, mengembangkan talenta Indonesia, serta berkontribusi dalam membangun ekosistem pertahanan kawasan yang lebih tangguh," katanya.

Fokus Produksi dan Transfer Teknologi

Fokus kemitraan ini adalah perakitan berbagai tipe kapal angkatan laut di dalam negeri yang disesuaikan dengan kondisi geografis Nusantara.

Proyek joint venture akan memfasilitasi produksi Landing Platform Dock (LPD), Landing Helicopter Dock (LHD), fregat, korvet multi-misi, kapal serang cepat, kapal selam, hingga Offshore Patrol Vessel (OPV) untuk pengaman ZEE.

Transfer teknologi dan pertukaran wawasan menjadi pilar utama untuk meningkatkan kapabilitas sektor manufaktur domestik.

Program pelatihan terstruktur disiapkan untuk mempertajam keahlian SDM lokal dalam desain, rekayasa, proses produksi, hingga integrasi sistem yang rumit.

>>> Perum Bulog Serap 3,17 Juta Ton Beras Petani Hingga Juni 2026

Melalui penguatan rantai pasok industri pendukung di dalam negeri, kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas kontribusi strategis Indonesia dalam pasar perkapalan global.