Ekspor minyak mentah Iran kembali mengalir deras setelah kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Volume yang dikirimkan mencapai sekitar 20 juta barel.

Kesepakatan ini mendorong pelonggaran pembatasan ekspor minyak Iran. Selain itu, Selat Hormuz kembali dibuka, jalur krusial bagi seperlima perdagangan minyak global.

in1

>>> Ilmuwan Akhirnya Ungkap Identitas Objek Antariksa Misterius

Peningkatan pasokan di pasar internasional memicu penurunan tajam harga minyak. Dampaknya, harga rata-rata bensin di AS kini merosot hingga di bawah US$4 per galon.

Sebanyak 11 kapal tanker memuat total 20 juta barel minyak telah berangkat dari Pelabuhan Chabahar, Iran. Pengiriman ini terjadi setelah ekspor sempat tersendat berbulan-bulan.

Pelepasan komoditas energi ini sejalan dengan implementasi nota kesepahaman antara Washington dan Teheran. Kerja sama ini dirancang untuk meredakan ketegangan dan mengamankan jalur pelayaran.

Faktor China Turut Tekan Harga

Kepala Ekonom LPL Financial, Jeffrey Roach, menilai pelaku pasar global terlalu mencemaskan risiko pasokan di Selat Hormuz. Menurutnya, penurunan permintaan dari China justru menjadi penentu utama harga.

>>> Transmart Full Day Sale: Diskon Mesin Cuci Sharp Hingga Rp2 Juta

Selain China, penurunan harga juga didukung pelepasan cadangan minyak strategis dan penyusutan aktivitas kilang. Tambahan produksi dari Brasil, Guyana, dan AS turut meredam gangguan pasokan.

Roach menyebut pelemahan daya serap China menjadi penahan lonjakan harga.

Volume impor minyak mentah China menyusut menjadi 6,7 juta barel per hari pada bulan lalu, turun hampir 40% dibanding rata-rata 2025.

>>> Antrean Tiket Konser BTS Jakarta 2026 Hari Ketiga Tembus 1 Juta Akun

Penurunan konsumsi China setara dengan pengurangan permintaan 4 juta barel per hari. Jumlah ini diperkirakan setara dengan total konsumsi minyak harian Jerman dan Prancis.