Namun, aliran dana asing masih tercatat keluar Rp 3,14 triliun di pasar reguler dan Rp 3,19 triliun di seluruh pasar pada hari yang sama.

Sejak awal tahun, akumulasi net sell mencapai Rp 79,63 triliun di pasar reguler dan Rp 65,05 triliun di seluruh pasar.

in1

>>> BPDP dan ASPEKPIR Ekspor Perdana 28 Ton Lidi Sawit ke China

Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan keluarnya dana asing dipicu penurunan bobot Indonesia dan penghapusan beberapa saham oleh indeks global.

Hal ini sejalan dengan kondisi fundamental Indonesia seperti tekanan fiskal dan kurs, serta kekhawatiran atas arah kebijakan pemerintah.

Wawan memperkirakan IHSG berpotensi rebound ke 6.500-7.000 di akhir 2026 jika sentimen membaik, terutama penurunan harga minyak.

Bagi investor jangka panjang, ia menyarankan memilih saham big caps dengan dividen yield tinggi.

Budi Frensidy mengatakan potensi net sell asing masih ada, meski tidak sebesar semester pertama 2026.

Arah dana asing bergantung pada perkembangan MSCI, stabilitas rupiah, yield obligasi, dan persepsi risiko.

Jika tekanan berlanjut, saham bank besar dan berkapitalisasi besar berpotensi menjadi sumber penjualan utama.

Budi memperkirakan IHSG di kisaran 6.500 pada akhir 2026, dengan sentimen positif dari valuasi menarik dan negatif dari isu MSCI, fiskal, serta ketidakpastian global.

Ia menyarankan investor fokus pada kualitas, diversifikasi, dan akumulasi bertahap secara selektif.

Reydi Octa memproyeksikan IHSG volatil dengan target realistis 6.400-6.800 jika rupiah stabil dan reformasi pasar dipercaya.

Ia menyarankan menghindari saham yang naik hanya karena sentimen teknikal tetapi free float, likuiditas, dan transparansinya lemah.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su memproyeksikan tiga skenario IHSG akhir 2026: bear case 5.700, base case 6.600, bull case 7.300.

Harry menekankan selektivitas pada likuiditas, tata kelola, dan eksposur asing emiten. Strategi tepat adalah akumulasi bertahap di saham big caps berkualitas saat koreksi.

>>> Samsung Kembangkan Exynos 2700 2nm untuk Flagship Masa Depan

Sektor yang berpotensi menjadi tujuan inflow asing adalah perbankan buku 4. Harry merekomendasikan buy BMRI dengan target harga Rp 6.000 per saham.