Swedia, yang sebelumnya menjadi pelopor digitalisasi sekolah, kini berbalik arah dengan menggencarkan penggunaan buku cetak.

Langkah ini diambil setelah kekhawatiran meningkat bahwa penggunaan layar berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan proses belajar anak.

in1

>>> Cargloss hingga KYT Tawarkan Diskon Helm di Jakarta Fair 2026

Di Sekolah Bandhagen, Stockholm, murid kelas empat terlihat membaca dari materi cetak. Seorang siswa bernama Emilia mengaku lebih mudah berkonsentrasi dengan buku fisik.

Swedia mulai memperluas perangkat digital di sekolah sekitar 2010. Namun, hasil PISA 2018-2022 menunjukkan penurunan tajam nilai membaca dan matematika.

Tinjauan pemerintah bersama ahli saraf dan pediatri menyimpulkan bahwa ketergantungan pada perangkat digital dapat mengganggu perhatian. Materi cetak dinilai lebih efektif untuk pembelajaran.

Pada 2023, Swedia mengubah kebijakan dengan mendorong pengajaran berbasis kertas bagi siswa muda.

>>> Harga Emas Antam 20 Juni 2026 Turun Rp 5.000 per Gram, Buyback Ikut Terkoreksi

Pemerintah mengalokasikan 658-755 juta kronor (sekitar Rp1,25-1,42 triliun) per tahun hingga 2025 untuk buku cetak.

Langkah Swedia kontras dengan negara lain seperti Jepang yang justru mengesahkan undang-undang untuk memperkenalkan buku teks digital.

Ketua Komite Pendidikan Parlemen Swedia Joar Forssell mengatakan keputusan ini didasarkan pada penelitian bahwa anak-anak dengan otak yang masih berkembang rentan terhadap dampak perangkat digital.

Namun, beberapa peneliti dan pendidik menyebut faktor lain seperti perubahan demografis dan tantangan siswa imigran juga memengaruhi performa akademik.

>>> Kemnaker Buka Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Tahap 3

Kepala Sekolah Bandhagen Pia Nystrom menekankan pentingnya menemukan keseimbangan antara metode digital dan tradisional, bukan sekadar menyalahkan teknologi.