Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menilai model integrasi perkebunan kelapa sawit dengan peternakan sapi menjadi solusi strategis untuk mengatasi defisit daging nasional.

Menurutnya, sistem ini juga dapat meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.

in1

>>> KBPP Polri: Sinergi Lintas Lembaga Kunci Jaga Stabilitas Nasional

"Ini memiliki potensi besar untuk mendukung pemenuhan kebutuhan daging nasional dan mengurangi ketergantungan impor," kata Hanif dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Pernyataan itu disampaikan saat ia meninjau peternakan dengan Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi (SISKA) di areal perkebunan PT Buana Karya Bhakti, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Jumat (19/6).

Hanif menjelaskan, sistem pengembangbiakan sapi secara alami di kawasan perkebunan terbukti lebih efisien dibandingkan inseminasi buatan.

Biaya lebih rendah dan proses reproduksi alami dinilai lebih efektif karena seluruh hormon yang dibutuhkan untuk kebuntingan tersedia secara alami.

"Model ini sangat cocok untuk breeding.

Setelah anak sapi berusia tiga hingga sembilan bulan, kemudian disapih dan dipisahkan agar pertumbuhannya lebih seragam," ujar Hanif.

Berdasarkan penjelasan pengelola, populasi sapi di PT Buana Karya Bhakti yang semula hanya sekitar 300 ekor kini telah berkembang menjadi hampir 1.500 ekor.

Populasi tersebut dipelihara di atas lahan perkebunan seluas hampir 16 ribu hektare.

Hanif menjelaskan, dengan rasio sekitar satu ekor sapi untuk setiap 13 hektare lahan, potensi integrasi sawit dan sapi di Kalimantan Selatan sangat besar.

Dari total sekitar 480 ribu hektare perkebunan sawit di provinsi tersebut, sekitar 250 ribu hektare dinilai layak untuk program SISKA.

"Kalau 250 ribu hektare ini diintegrasikan, maka paling tidak ada sekitar 20 ribu ekor sapi yang bisa dipelihara.