Institut Teknologi Sumatera (Itera) meresmikan Taman Cendawan di kawasan Kebun Raya Itera, Lampung, pada Jumat. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat riset, edukasi, dan konservasi keanekaragaman hayati jamur nusantara.

Rektor Itera, Prof Dr I Nyoman Pugeg Aryantha, mengatakan taman ini menjadi inovasi unggulan untuk memperkenalkan dunia fungi kepada masyarakat.

in1

>>> Dinkes Jambi Optimalkan CKG untuk Deteksi Dini Kanker dan Penyakit Kronis

Ia menekankan bahwa jamur memiliki peran vital sebagai dekomposer yang menguraikan kayu lapuk dan serasah, mengembalikan unsur hara ke tanah, serta mendukung keberlanjutan ekosistem hutan tropis.

Taman Cendawan Itera tidak hanya menjadi area koleksi jamur, tetapi juga wahana edukasi yang menampilkan keindahan, keunikan, dan peran penting jamur.

Saat ini, taman tersebut mengoleksi puluhan jenis jamur dari berbagai wilayah di Sumatera, khususnya Lampung.

Beberapa koleksi unggulan meliputi jamur kuping yang bergizi, Ganoderma yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional, dan jamur king alfred’s cake atau jamur batu bara yang dapat digunakan sebagai pemantik api setelah dikeringkan.

>>> Rayhan Hannan Perpanjang Kontrak dengan Persija hingga Tiga Musim

Semua koleksi tumbuh pada substrat alami seperti kayu lapuk dan serasah, sehingga pengunjung dapat mempelajari habitat dan karakteristik masing-masing spesies.

Jamur juga memiliki peran penting dalam hubungan simbiosis dengan tumbuhan melalui mikoriza.

Hubungan ini membantu akar tanaman menyerap air dan nutrisi secara optimal, mendukung produktivitas dan kesehatan ekosistem hutan.

Rektor berharap Taman Cendawan Itera menjadi sarana pembelajaran yang meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya fungi sebagai bagian dari keberlanjutan sumber daya hayati Indonesia.

>>> Kisah Anya Taylor-Joy yang Pernah Dirundung Sebelum Sukses di Hollywood

Keberadaan jamur, menurutnya, sering luput dari perhatian, padahal organisme tersebut memiliki fungsi vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem.