Wisatawan asal Australia yang berlibur di Bali memiliki preferensi unik dalam menikmati kafein. Mereka lebih memilih espresso dibandingkan kopi biasa.

Kebiasaan ini erat kaitannya dengan sejarah panjang budaya minum kopi di Australia. Perkembangan pesat terjadi pasca-Perang Dunia Kedua ketika imigran Italia memperkenalkan mesin espresso di Sydney dan Melbourne.

in1

>>> Timnas Argentina Bawa 500 Kg Daging dan Teh ke Piala Dunia 2026

Metode penyeduhan espresso dengan cepat memikat masyarakat setempat. Hingga kini, espresso menjadi tren utama yang bertahan lama.

Warga Australia menyukai kesederhanaan rasa dari menu turunan espresso seperti flat white dan long black. Mereka biasanya tidak menambahkan gula atau sirup perasa.

Kafe di Australia berfungsi sebagai ruang bersosialisasi, bukan sekadar tempat kerja. Masyarakat terbiasa meluangkan waktu akhir pekan untuk mengunjungi kedai kopi secara langsung.

Melbourne kini memegang predikat sebagai pusat kopi terbesar di Australia. Kota ini bahkan kerap dijuluki sebagai ibu kota kopi dunia.

>>> Alwi Farhan Dukung Portugal dan Ronaldo Juara Piala Dunia 2026

Komunitas penikmat kopi di Australia sangat memperhatikan industri specialty coffee. Mulai dari pemilihan biji kopi mentah impor berkualitas tinggi hingga teknik penyeduhan terbaik.

Para pemanggang kopi dan pemilik kedai di Melbourne terus berburu biji kopi mentah unggul dari berbagai belahan dunia.

Aktivitas minum kopi di sana juga menjadi pusat seni latte art.

Sektor ini bertransformasi menjadi bentuk seni serius yang membutuhkan keahlian barista tingkat atas.

>>> Avrist Assurance Gandeng Lima Mitra Perluas Asuransi Digital

Para pencinta kopi setempat menyebut barista yang tidak menguasai latte art kemungkinan tidak akan bertahan lama di Melbourne.