Wisatawan asal Australia yang berlibur ke Bali ternyata lebih memilih espresso dibanding kopi biasa.

Hal ini berkaitan erat dengan sejarah panjang perkembangan kopi di Australia sejak puluhan tahun lalu.

>>> Skandal Brendan Sorsby Picu Rencana Pemboikotan Pertandingan Texas Tech

Budaya minum kopi di Australia mulai berkembang setelah Perang Dunia Kedua. Para imigran dari Italia membawa mesin kopi espresso ke Melbourne dan Sydney.

Metode penyeduhan espresso kemudian menjadi tren utama yang digemari hingga sekarang.

Warga Australia lebih menyukai minuman berbasis espresso seperti flat white dan long black tanpa tambahan perasa atau gula.

Bagi masyarakat Australia, kafe berfungsi sebagai tempat bersosialisasi. Mereka tidak menganggap kafe sebagai ruang kerja atau kantor sewaan.

Saat akhir pekan, banyak warga Australia yang sengaja datang ke kedai kopi untuk menikmati suasana. Mereka lebih memilih duduk di lokasi daripada menggunakan layanan pesan antar atau drive-thru.

>>> Saham Properti Anjlok 36 Persen, Sektor Hunian Terbebani Suku Bunga Tinggi

Melbourne sebagai Kiblat Kopi Dunia

Melbourne telah lama dipandang sebagai pusat perkopian terbesar di Australia, bahkan dijuluki sebagai ibu kota kopi dunia. Komunitas kopi di kota ini sangat fokus pada industri specialty coffee.

Para pelaku usaha kedai kopi dan pemanggang di Melbourne aktif mencari biji kopi mentah berkualitas dari berbagai belahan dunia.

Standar tinggi ini membuat industri kopi lokal terus berkembang.

Sajian kopi di Melbourne tidak terbatas pada espresso atau flat white. Kota ini menjadi pusat seni latte art dan rumah bagi barista terbaik global.

Kopi telah menjadi bagian penting dari gaya hidup dan rutinitas harian di Australia. Aktivitas ini dipandang sebagai bentuk seni yang menuntut keahlian barista tingkat atas.

>>> Peneliti Temukan Dua Subtipe Autisme Berdasarkan Konektivitas Otak

Para penikmat kopi di sana bahkan menyebut bahwa barista yang tidak bisa membuat latte art kemungkinan tidak akan bertahan tiga minggu di Melbourne.