Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa karakteristik struktur geologi yang rumit serta kondisi litologi tanah yang lunak menjadi faktor yang memperparah dampak kerusakan akibat gempa tektonik di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam konferensi pers analisis gempa bumi Sulawesi Tengah, Jumat, mengatakan kompleksitas geologi di lokasi terdampak memicu deformasi permukaan tanah yang masif.

in1

>>> KKP Tegaskan Sertifikasi Mutu Hasil Perikanan Gratis Tanpa Pungutan

"Kejadian gempa utama yang diikuti banyaknya gempa susulan menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam.

Kedekatan episenter dengan permukiman dan kondisi tanah yang lunak mengamplifikasi efek guncangan," kata Lana.

Gempa bermagnitudo 6,7 yang terjadi pada Selasa (16/6) telah mengakibatkan kerusakan struktural pada bangunan, retakan tanah, penurunan lahan (land subsidence), hingga longsoran akibat ketidakstabilan lereng di Gunung Kamarora.

Tim ahli di lapangan bersama masyarakat setempat juga mengidentifikasi fenomena surutnya air laut di kawasan Teluk Palu sesaat setelah gempa.

>>> Pratinjau Skotlandia vs Maroko: Saatnya Tartan Army ke Babak Gugur

Fenomena ini masih memerlukan kajian lanjutan.

Kumpulan gempa susulan yang terjadi secara konstan di wilayah tersebut menyerupai karakteristik gempa swarm. Perubahan tegangan (stress) pasca-gempa utama diduga ikut memengaruhi sesar-sesar aktif lain di sekitarnya.

Munculnya rekahan permukaan tanah serta amblesan pada jalur logistik akses Napu secara teknis dipengaruhi oleh posisi topografi yang memiliki kemiringan lereng curam di atas lapisan tanah yang tidak kompak.

Berkaca dari berbagai dampak fisik yang muncul, Badan Geologi menekankan pentingnya penerapan penataan ruang dan mitigasi bencana berbasis kondisi geologi setempat guna mereduksi risiko kebencanaan pada masa mendatang.

>>> Android 17 Permudah Transfer Data dari iPhone ke Android

"Ya, jadi berbagai dampak yang muncul menunjukkan pentingnya mitigasi berbasis kondisi geologi untuk mengurangi risiko pada kejadian serupa di masa mendatang," kata Lana.