Pemerintah mengimbau bank-bank BUMN atau Himbara untuk tidak tergesa-gesa menaikkan suku bunga kredit menyusul kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan harapan tersebut setelah mengikuti pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para petinggi Himbara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

in1

>>> PSSI Tunjuk Stadion Pakansari Jadi Kandang Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

Menurut Airlangga, penyesuaian bunga kredit yang terlalu cepat berisiko membebani sektor usaha yang masih menghadapi ketidakpastian global dan tekanan daya beli.

"Ya ini relay-nya kan ada transmisi terkait kenaikan bunga kredit, diharapkan, tentu Himbara tidak terlalu cepat juga menaikkan," ujar Airlangga, Kamis (18/6/2026).

Pertemuan di Istana dihadiri sejumlah direktur utama bank pelat merah, antara lain Direktur Utama BRI Hery Gunardi, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BTN Nixon L.

P. Napitupulu, dan Direktur Utama Bank Mandiri Riduan beserta jajaran komisaris.

Airlangga menegaskan tidak ada instruksi khusus dari Presiden Prabowo untuk membekukan kenaikan suku bunga.

>>> Hiroshi Aoyama: Karakter Sirkuit Brno Untungkan Veda Ega

Pemerintah hanya menekankan pentingnya fungsi intermediasi perbankan agar penyaluran pembiayaan ke sektor produktif tetap lancar.

"Ya tentu harapannya ke depan kredit tetap jalan," kata Airlangga.

Fluktuasi bunga pinjaman berdampak langsung pada biaya modal dunia usaha dan rumah tangga.

Jika biaya kredit membengkak, ekspansi bisnis terancam mandek dan konsumsi masyarakat pada sektor kendaraan, hunian, serta modal kerja berpotensi tertekan.

>>> 5 Kebiasaan Tidur yang Menjaga Otak Tetap Tajam hingga Usia Tua

Kondisi ini menjadi tantangan bagi target pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat aliran kredit perbankan merupakan stimulus utama dalam menggerakkan investasi dan aktivitas pasar domestik.