PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MoraRepublic) menilai industri internet rumah di Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan.

Perusahaan meyakini bahwa harga bukan lagi faktor utama bagi masyarakat dalam memilih layanan fixed broadband.

in1

>>> Ajukan Perubahan Desil Bansos Kemensos via Aplikasi Cek Bansos

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pelanggan fixed broadband mencapai 99,51 juta jiwa pada 2026.

Angka tersebut setara dengan 42,3% dari total pengguna internet Indonesia yang mencapai 235,26 juta jiwa.

Proporsi ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 38,7%, naik 3,6 poin persentase.

Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan sebesar 57,7%, yang berarti mayoritas pengguna internet belum berlangganan layanan internet tetap.

Chief Regulatory & Corporate Affairs Officer MoraRepublic Resi Y. Bramani mengatakan angka penetrasi tersebut menunjukkan pasar masih jauh dari jenuh.

Menurut Resi, ada beberapa faktor utama yang akan mendorong pertumbuhan industri ke depan.

Pertama, perubahan perilaku digital meningkatkan kebutuhan koneksi internet stabil untuk streaming, bekerja dari rumah, dan pembelajaran daring.

Kedua, tingginya penetrasi layanan seluler yang memiliki keterbatasan kapasitas dan stabilitas pada jam sibuk membuka peluang bagi fixed broadband.

Ketiga, pertumbuhan kawasan residensial dan urbanisasi menciptakan peluang ekspansi jaringan ke perumahan baru.

Keempat, meningkatnya tren home-centric lifestyle menjadikan rumah sebagai pusat aktivitas digital, sehingga kebutuhan konektivitas berkualitas semakin penting.

Resi memproyeksikan pertumbuhan positif, terutama di kota-kota yang masih berkembang, dengan kombinasi ekspansi jaringan dan edukasi pasar sebagai kunci.

Pada tahun ini, MoraRepublic menargetkan sekitar 1,5 juta pelanggan untuk layanan FTTH dan FWA.

Resi menambahkan bahwa harga masih menjadi faktor penting, terutama bagi segmen pelanggan yang sensitif terhadap biaya.