Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meminta pemerintah untuk memastikan kesiapan PT Danantara Sumberdaya Investama (DSI) sebelum badan tersebut terlibat lebih jauh dalam ekspor kelapa sawit nasional.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyatakan bahwa pelaku usaha tidak mempermasalahkan pembentukan PT DSI. Namun, mereka masih meragukan kapasitas perusahaan dalam mempertahankan ritme layanan yang sudah ada.

in1

>>> Astra Motor Yogyakarta Edukasi Bikers Cara Aman Modifikasi Kelistrikan Honda Vario 125

Menurut Eddy, efisiensi waktu menjadi faktor krusial dalam perdagangan minyak sawit global. Hal ini berkaitan erat dengan pemenuhan kontrak dan kebutuhan pembeli internasional.

"Kecepatan memutuskan, kecepatan misalnya ada pesanan seperti apa kan gitu," ujar Eddy kepada Suara. com, Kamis (18/6/2026).

Ia menambahkan bahwa perubahan mekanisme ekspor tidak boleh menimbulkan perlambatan proses bisnis. Hambatan birokrasi berpotensi memicu ketidaknyamanan bagi mitra dagang luar negeri yang terbiasa dengan sistem transaksi cepat.

GAPKI menyarankan agar masa transisi saat ini dioptimalkan untuk menguji keandalan sistem, kompetensi sumber daya manusia, serta alur bisnis PT DSI secara menyeluruh sebelum regulasi diterapkan sepenuhnya.

Pemerintah juga diminta mencermati dampak kebijakan terhadap rantai pasok industri sawit secara detail.

>>> OJK Terbitkan Enam Kebijakan Baru untuk Perkuat Sektor PVML

Sektor ini memiliki karakteristik produksi yang tidak dapat dihentikan mendadak karena keterbatasan masa simpan buah sawit.

"Jangan sampai nanti justru yang dirugikan semua, bukan hanya ini, negara dirugikan, masyarakat juga dirugikan, petani. Semua lah kalau macet semuanya kan dirugikan," kata Eddy.

Meski memberikan catatan kritis, GAPKI menegaskan dukungan terhadap upaya pemerintah meningkatkan transparansi ekspor. Proses tersebut harus dijalankan secara hati-hati dan melibatkan pelaku usaha secara aktif.

"Mudah-mudahan tidak terjadi. Karena mereka mau kerja sama.

>>> BI Pangkas Batas Pembelian Valas Tunai Tanpa Underlying Jadi US$10.000 per Bulan

Saya rasa kalau mereka mau kerja sama tidak ada masalah," pungkas Eddy.