PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) atau Elitery memutuskan untuk tidak membagikan dividen dari laba bersih tahun buku 2025.

Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan telah disetujui para pemegang saham.

in1

>>> Keluarga Bantah Jorge Messi Meninggal, Sedang Dirawat di Rumah Sakit

Laba bersih tersebut akan dialokasikan kembali sebagai reinvestasi. Dana ini digunakan untuk memperkuat fondasi bisnis dan mendukung ekspansi perseroan ke pasar internasional.

Manajemen ELIT menjelaskan bahwa kebijakan menahan dividen merupakan bagian dari strategi jangka panjang.

Langkah ini bertujuan memperluas jangkauan pasar ke kawasan Asia dan Eropa, seiring meningkatnya permintaan global terhadap layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan keamanan siber.

Selain untuk pengembangan teknologi dan penetrasi pasar global, akumulasi dana ini juga berfungsi sebagai bantalan likuiditas (cash buffer).

Manajemen menilai penguatan posisi kas penting untuk menghadapi dinamika ekonomi dunia dan potensi tekanan makroekonomi ke depan.

Saat ini, Elitery tengah agresif memperluas jejak bisnis di luar negeri. Setelah mendirikan Elitery Global Technology Sdn.

Bhd.

di Malaysia, perusahaan menjadikan negara tersebut sebagai batu loncatan menuju penetrasi yang lebih luas di Asia dan Eropa.

Direktur Utama Elitery, Kresna Adiprawira, menyatakan optimisme perseroan pada tahun 2026 didukung oleh tingginya kebutuhan keamanan informasi global.

>>> 4 Rekomendasi Mesin Cuci Hemat Listrik untuk Daya 450 Watt

Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang terus melaju juga menjadi pendorong utama.

"Inovasi teknologi, terutama di bidang cybersecurity dan AI, serta ekspansi regional merupakan fokus utama kami di masa depan.

Elitery berkomitmen untuk terus bertumbuh sebagai perusahaan teknologi asal Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global, khususnya di Asia dan Eropa," ujar Kresna Adiprawira.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan tahun 2025, Elitery mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 30,35 persen secara tahunan menjadi Rp33,72 miliar.

Pendapatan usaha perseroan mencapai Rp462,86 miliar, dengan laba kotor meningkat 7,69 persen menjadi Rp124,33 miliar.

Emiten teknologi ini juga menunjukkan peningkatan efisiensi melalui kenaikan Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) dari 24,14 persen menjadi 26,86 persen.

EBITDA perusahaan tumbuh 17,49 persen menjadi Rp68,69 miliar.

Pada aspek neraca keuangan, posisi kas dan bank ELIT melesat hingga Rp41,74 miliar.

>>> Sanksi Penyelenggara Jalan Rusak Dinilai Terlalu Ringan, Mahasiswa Uji ke MK

Total liabilitas perseroan berhasil ditekan turun 4,52 persen menjadi Rp138,65 miliar, sedangkan ekuitas perusahaan tumbuh 17,84 persen menjadi Rp158,06 miliar.