>>> AS dan Iran Teken Nota Kesepahaman, Blokade Maritim Dicabut

Dalam periode tersebut, Iran berkomitmen mengizinkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tanpa hambatan dan menargetkan pemulihan kapasitas penuh jalur tersebut dalam waktu 30 hari.

in1

Kesepakatan itu juga mengikat sekutu kedua negara di Timur Tengah, termasuk terkait konflik di Lebanon yang melibatkan Israel dan Hizbullah.

Meskipun demikian, sejumlah isu krusial seperti program nuklir Iran masih ditunda pembahasannya.

Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pembiayaan senilai US$ 300 miliar untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran. Sejumlah analis memperkirakan arus minyak melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap.

Namun, harga minyak diproyeksikan tidak langsung kembali ke level sebelum konflik karena permintaan energi mulai pulih dan persediaan global perlu diisi kembali.

Goldman Sachs memprediksi ekspor minyak dari kawasan Teluk akan kembali normal pada akhir Juli.

Produksi minyak mentah diproyeksikan pulih sepenuhnya pada Oktober mendatang.

Di sisi lain, BNP Paribas menilai harga Brent sulit kembali ke level sebelum perang dan memperkirakan US$ 75 per barel akan menjadi batas bawah yang kuat dalam waktu dekat.

Sebelumnya, harga Brent bergerak di kisaran US$ 60-70 per barel pada dua bulan pertama tahun ini. Prospek permintaan dari China juga menjadi perhatian pasar.

Unit riset PetroChina memperkirakan konsumsi minyak China pada 2026 mencapai 753 juta ton, atau turun 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat percepatan transisi energi dan tingginya harga minyak.

Di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, serangan drone Ukraina kembali menghantam kilang minyak di ibu kota Rusia untuk kedua kalinya dalam sepekan.

>>> Menkeu Purbaya Tegaskan Pinjaman AIIB Rp17 Miliar AS Bersifat Normal

Hal ini menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi global.