Kementerian ESDM Kaji Revisi Harga Batu Bara DMO untuk PLN
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mengkaji kemungkinan merevisi harga batu bara untuk PT PLN melalui program domestic market obligation (DMO).
Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri kelistrikan dan keberlanjutan usaha pertambangan.
>>> OJK Soroti Dampak Ketidakpastian Global pada IHSG yang Sempat Anjlok
Saat ini, batas harga batu bara untuk sektor kelistrikan dipatok sebesar US$70 per ton. Sementara untuk sektor industri seperti semen dan pupuk ditetapkan US$90 per ton.
Aturan yang berjalan bersamaan dengan kewajiban penjualan 25 persen produksi ke pasar domestik ini belum berubah sejak 2018.
Beban Biaya Produksi Meningkat
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ketentuan yang telah berlaku selama delapan tahun tersebut mulai memberatkan para pengusaha.
Hal ini dipicu oleh peningkatan stripping ratio (SR) atau rasio volume tanah penutup yang harus dibongkar untuk mendapatkan satu ton batu bara.
"Untuk batu bara medium ini SR-nya sudah di 8%—12%, biaya produksinya sudah tinggi.
Jadi kita juga harus bijaksana agar teman-teman pengusaha jangan dibeli dengan harga yang sangat murah.
Kalau beli harganya rugi, tidak mungkin juga," kata Bahlil seusai rapat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Kamis (18/6/2026).
>>> Biaya Operasional Geely EX2 Rute Jakarta-Bandung: Hanya Rp 44.000 untuk Listrik
Bahlil menambahkan bahwa formula baru sedang dihitung secara cermat agar memberikan keuntungan yang adil bagi kedua belah pihak.
Kementerian ESDM mengevaluasi dampak positif dan negatif supaya PLN maupun perusahaan tambang tidak ada yang dirugikan.
Di sisi lain, pemerintah juga mengupayakan pemenuhan target pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan adanya kekurangan pasokan sekitar 20 juta ton pada tahun ini.
Berdasarkan hasil evaluasi kementerian, total kebutuhan batu bara untuk pembangkit PLN mencapai 154 juta ton sepanjang tahun ini.
Namun, realisasi pasokan yang terpenuhi baru menyentuh angka 134 juta ton.
>>> Meritokrasi Dinilai Kunci Utama Penunjukan Dirut Danantara Sumberdaya Indonesia
"Dan itu kekurangan 20 [juta ton] itu lagi diusahakan," tutur Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (17/6/2026).
Update Terbaru
Akun Instagram Bruno Fernandes Diserbu Puluhan Ribu Pendukung Cristiano Ronaldo
Jumat / 19-06-2026, 07:03 WIB
Kolombia Taklukkan Uzbekistan 3-1 di Laga Perdana Grup K Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 07:03 WIB
AS Akhiri Blokade Selat Hormuz Setelah Iran Sepakati Perdamaian
Jumat / 19-06-2026, 07:02 WIB
HRC Tunjuk Mikihiko Kawase Gantikan Alberto Puig sebagai Team Manager MotoGP
Jumat / 19-06-2026, 07:02 WIB
Studi Ungkap Ciri Kepribadian yang Memicu Penghasilan Tinggi
Jumat / 19-06-2026, 07:02 WIB
Promo Superindo 5 Mei 2026: Diskon 55% dan Beli 2 Lebih Hemat
Jumat / 19-06-2026, 07:02 WIB
Saham BBCA Turun 3,19 Persen, Likuiditas Tetap Kuat
Jumat / 19-06-2026, 07:01 WIB
Akun Bruno Fernandes Diserbu Fans Ronaldo Usai Portugal Ditahan Imbang
Jumat / 19-06-2026, 07:01 WIB
Pelatih Bosnia Tegaskan Timnya Belum Menyerah untuk Lolos Fase Grup
Jumat / 19-06-2026, 07:01 WIB
Dishub DKI Terapkan Rekayasa Lalu Lintas di Monas Jumat Malam
Jumat / 19-06-2026, 06:58 WIB
Marc Cucurella Resmi Bergabung dengan Real Madrid dalam Transfer Kilat
Jumat / 19-06-2026, 06:57 WIB
Harga Emas Antam dan Pegadaian Anjlok, Buyback Terkoreksi Rp39.000
Jumat / 19-06-2026, 06:57 WIB
Budi Setyawan Wijaya Resmi Jadi Direktur Utama PT PELNI
Jumat / 19-06-2026, 06:57 WIB
Al-Nassr Siapkan Tiga Pemusatan Latihan Jelang Musim Baru
Jumat / 19-06-2026, 06:57 WIB






