Pemerintah Amerika Serikat di bawah administrasi Donald Trump mengakui penggunaan model kecerdasan buatan Grok Gov dari xAI milik Elon Musk untuk mendukung operasi militer, termasuk pengeboman di Iran.

Pengakuan tersebut disampaikan oleh Departemen Kehakiman (DOJ) dalam sidang gugatan lingkungan federal yang diajukan oleh NAACP terhadap pusat data xAI di Mississippi pada Senin waktu setempat.

in1

>>> Gubernur BI: Suku Bunga AS Berpotensi Naik Akibat Inflasi

DOJ meminta hakim membatalkan gugatan karena fasilitas tersebut dianggap sangat penting bagi keamanan nasional dan mendukung operasi komando militer AS.

Peran Grok Gov dalam Operasi Epic Fury

Kepala Digital dan Kecerdasan Buatan Pentagon, Cameron Stanley, menjelaskan bahwa militer saat ini mengandalkan turunan dari produk komersial xAI yang dikenal sebagai Grok Gov Model.

Sistem ini diterapkan dalam Maven Smart Systems (MSS) untuk mendukung misi keamanan nasional yang vital, termasuk penentuan target dan intelijen.

Menurut Stanley, integrasi Grok Gov Model dengan MSS berhasil membantu pasukan AS meluncurkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 target berbeda dalam waktu 96 jam selama Operasi Epic Fury.

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam perang ini mendapat kritik keras karena risiko kesalahan identifikasi target sipil.

Sebuah investigasi militer mengungkapkan bahwa jet tempur AS bertanggung jawab atas serangan terhadap sekolah dasar Shajarah Tayyebeh di Minab, Iran, yang menewaskan sedikitnya 175 orang akibat data pemetaan yang usang.

Gugatan Lingkungan terhadap xAI

Di sisi lain, NAACP menggugat xAI dan anak perusahaannya, MZX Tech, karena mengoperasikan puluhan turbin gas metana tanpa izin di Southaven, Mississippi, yang melanggar Undang-Undang Udara Bersih.

>>> Timnas Inggris Tekuk Kroasia 4-2, Jude Bellingham Jadi Bintang