Tim Landis memberikan kelonggaran waktu istirahat selama satu hari penuh bagi jemaah lansia setibanya di hotel.

Kebijakan ini berbeda dengan jemaah sehat yang biasanya langsung menuju Masjidil Haram setelah enam jam istirahat.

Proses mobilisasi jemaah menuju umrah wajib menjadi salah satu momen paling emosional. Petugas melakukan pengawalan ketat dari hotel, menaikkan jemaah ke bus, hingga tiba di Terminal Syib Amir.

Sesampainya di terminal, tim bergerak cepat melakukan koordinasi dengan Sektor Khusus (Seksus) untuk memesan kursi roda. Hal ini memastikan jemaah bersama pendamping kloter bisa beribadah secara aman.

"Banyak momen haru di terminal. Jemaah yang kebingungan kami tenangkan dan kami bimbing dari hati ke hati.

Saat tahu mereka bisa melihat Ka'bah dan menyelesaikan umrah, rasanya sangat plong. Banyak dari mereka yang menangis haru dan mengucapkan terima kasih kepada tim Landis," kata Abdul Aziz.

>>> Thomas Tuchel Tarik Declan Rice demi Hindari Risiko Cedera

Pelayanan yang diberikan oleh tim Landis di hotel tempat jemaah menginap sering kali menyentuh ranah personal.

Muhammad Rosi dan Abdul Aziz mengemban peran sebagai pengganti keluarga bagi jemaah lansia mandiri yang datang tanpa pendampingan kerabat.

"Kami melakukan visitasi dan menemukan jemaah yang benar-benar membutuhkan bantuan personal. Mulai dari menyuapi makan, mengganti popok, memandikan, hingga menceboki di kamar mandi.

Ada juga jemaah non-lansia yang terkena stroke yang rutin menelepon kami lewat HP jika ingin ke toilet," kenang Muhammad Rosi.

Proses pendekatan persuasif dan ketulusan petugas berhasil menghilangkan rasa canggung jemaah yang awalnya sempat merasa enggan serta malu untuk dibantu.

"Lama-kelamaan mereka terbuka. Sembari memandikan, kami bercengkrama tentang keluarga mereka di rumah.