Sehingga menurut saya memang yield curve ini berubah seperti ini karena repricing risiko saja yang cukup cepat terjadi," ujar Salvian dalam agenda Edukasi Wartawan terkait Market Outlook Obligasi Semester II 2026, Kamis (18/6/2026).

>>> BI Salurkan Insentif KLM Rp418,1 Triliun ke Perbankan hingga Juni 2026

Salvian menilai, dibandingkan kemungkinan yield tenor panjang kembali meningkat, peluang yang lebih besar justru berasal dari penurunan yield tenor pendek.

Alasannya, level yield obligasi jangka pendek saat ini sudah cukup menarik bagi investor.

"Sebagai gambaran, obligasi pemerintah dengan tenor di bawah lima tahun saat ini menawarkan yield sekitar 7,2%.

Angka tersebut cukup menarik dibandingkan level-level sebelumnya sehingga berpotensi meningkatkan minat beli investor.

Dengan kondisi tersebut, menurut saya kemungkinan terjadinya inverted yield curve pada semester II tidak terlalu besar," jelasnya.

Di sisi lain, permintaan terhadap obligasi pemerintah diperkirakan tetap terjaga meski kondisi pasar masih dibayangi ketidakpastian.

Berdasarkan data lelang, Salvian mencermati minat investor memang sedikit melemah dibandingkan sebelumnya, tetapi tingkat permintaan masih berada pada level yang sehat dan tetap mencatatkan oversubscribe.

Salvian menambahkan, pemerintah juga masih menerbitkan obligasi secara rutin dengan target penerbitan yang relatif stabil. Menurutnya, selama instrumen obligasi menawarkan yield yang kompetitif, minat investor akan tetap terjaga.

"Pada akhirnya, yang dicari investor adalah tingkat yield yang kompetitif.

Karena itu, baik pemerintah maupun korporasi mau tidak mau harus menawarkan yield yang menarik agar dapat menjaga minat investor terhadap obligasi yang diterbitkan.

>>> Nonton Dowbload Film Dukun Magang di Bioskop Bukan LK21: Hadirkan Teror Kuntilanak Hitam di Desa Kalimati

Sampai saat ini, kami melihat level yield yang ditawarkan masih cukup kompetitif dan mampu menjaga permintaan pasar," tutupnya.