Filler merupakan material berbentuk gel yang disuntikkan ke bawah permukaan kulit untuk mengurangi kerutan, memperbaiki kontur wajah, hingga menambah volume pada area tertentu seperti bibir atau pipi.

Bahan yang digunakan umumnya berupa asam hialuronat maupun lemak yang diambil dari tubuh pasien sendiri.

Dokter bedah plastik dr Lyle Leipziger mengatakan jutaan prosedur filler dilakukan setiap tahun dengan tingkat komplikasi yang rendah. Namun, pemahaman anatomi wajah dan teknik penyuntikan yang tepat menjadi faktor utama dalam menjaga keamanan tindakan tersebut.

"Filler wajah sebenarnya sangat aman selama dilakukan oleh dokter bedah plastik atau dokter kulit yang berpengalaman dan memahami anatomi wajah," kata dr Lyle Leipziger.

Efek Samping yang Umum Terjadi

Setelah menjalani filler, sejumlah reaksi ringan dapat muncul dan biasanya tidak berbahaya.

  • Pembengkakan selama 24 hingga 72 jam.
  • Memar pada area penyuntikan.
  • Kemerahan pada kulit.
  • Rasa nyeri atau tidak nyaman yang bersifat sementara.

Keluhan tersebut umumnya mereda dalam beberapa hari tanpa memerlukan penanganan khusus.

"Ketika filler disuntikkan, pembengkakan selama 24 hingga 72 jam merupakan hal yang normal," ujar dr Mark.

Komplikasi Serius yang Harus Diwaspadai

Salah satu komplikasi paling berat dari prosedur filler adalah vascular occlusion atau penyumbatan pembuluh darah akibat material suntikan.

Kondisi tersebut dapat ditandai dengan sejumlah gejala seperti nyeri hebat yang tidak biasa, perubahan warna kulit menjadi pucat atau kebiruan, serta gangguan aliran darah pada jaringan sekitar area suntikan.

Jika terdeteksi lebih awal, dokter dapat memberikan enzim hyaluronidase untuk melarutkan jenis filler tertentu sehingga aliran darah kembali normal dan risiko kerusakan jaringan dapat diminimalkan.