Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

>>> QS Rilis Daftar Universitas Terbaik Dunia WUR 2027, UI Peringkat 1 Nasional

Gangguan ini dialami sekitar 50% pria berusia di atas 50 tahun. Angka tersebut bahkan meningkat hingga 80–90% pada usia 80 tahun ke atas.

Karena gejalanya berkembang perlahan, banyak pria menunda pemeriksaan hingga kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari terganggu.

Pasien tak jarang baru datang ketika sudah mengalami komplikasi seperti infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga gangguan fungsi ginjal.

Gejala yang Sering Diabaikan

Menurut dr. Elita Wibisono, Sp.

U, Dokter Spesialis Urologi yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading, pembesaran prostat merupakan salah satu masalah kesehatan pria yang paling sering ditemukan.

Namun, kondisi ini masih kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

"Banyak pasien menganggap pancaran urine yang melemah atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar karena faktor usia.

Akibatnya, mereka baru datang ke dokter ketika sudah mengalami komplikasi, bahkan hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali," jelas dr. Elita.

Pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih.

Akibatnya, pria dapat mengalami pancaran urine melemah, rasa tidak tuntas saat berkemih, hingga urine menetes di akhir buang air kecil yang sering kali dianggap sepele.

Secara medis, kondisi sering terbangun di malam hari untuk berkemih dikenal sebagai nokturia.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan.