Celah visibilitas ini dimanfaatkan penjahat siber dengan botnet berbasis AI yang meniru perilaku browser manusia. Akamai mencatat lonjakan aktivitas bot canggih hingga 147% pada akhir tahun 2025.

Sebagai mitigasi, Akamai menyarankan institusi finansial menerapkan mikrosegmentasi untuk mengisolasi aplikasi penting. Data menunjukkan perusahaan yang menerapkan sistem ini mampu merespons insiden siber 33% lebih cepat.

Ekspansi Infrastruktur AI di Asia

Di tengah ketatnya keamanan siber, Akamai mencatat pendapatan tahunan di atas USD 1 miliar di APAC pada tahun 2025.

Dipimpin oleh Senior Vice President of Sales dan Managing Director APAC yang baru, Sean Li, Akamai fokus mendukung penerapan AI generasi berikutnya melalui infrastruktur edge.

Menurut Li, kendala utama adalah arsitektur cloud konvensional yang tidak dirancang untuk memproses data AI real-time dalam skala besar.

Akamai memindahkan proses inferensi AI ke edge menggunakan jaringan GPU yang tersebar di seluruh dunia.

Strategi ini mendukung kebutuhan masa depan seperti mesin rekomendasi, pemrosesan video langsung, kendali kendaraan otonom, dan agen digital cerdas.

>>> Kementerian ESDM Pangkas Insentif Biodiesel Jadi Rp32 Triliun pada 2026

Akamai berambisi mengintegrasikan performa komputasi tinggi dengan keamanan berlapis tanpa mengorbankan kecepatan akses.