Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi mengatakan program ini menunjukkan hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata untuk menjawab tantangan lahan pesisir bersalinitas tinggi.

>>> Pabrik Sepatu Bandung Rumahkan 4.000 Pekerja Akibat Pasokan AS Tersendat

"Pendekatan ini tidak hanya memulihkan produktivitas lahan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi kawasan," katanya.

Dengan dukungan teknologi pertanian berbasis riset, program menargetkan produktivitas padi 6-7 ton per hektare.

Benih ikan nila salin diharapkan menghasilkan panen dengan bobot rata-rata sekitar 300 gram per ekor.

Budi daya rumput laut diharapkan memberikan tambahan pendapatan melalui pola panen berkelanjutan yang relatif singkat.

Ke depan, program akan diperkuat dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir sekitar lokasi budi daya sebagai mitigasi abrasi dan menjaga keberlanjutan ekosistem.

Saat peluncuran, dilakukan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin serta penyerahan dan penanaman benih padi Biosalin bersama para petani.

Panen perdana ditargetkan dalam waktu kurang lebih tiga bulan, dengan potensi produktivitas hingga 5 kilogram hasil panen untuk setiap 1 kilogram bibit yang ditebar.

Setelah panen awal, budi daya rumput laut direncanakan berlanjut dengan pola panen bertahap setiap 3-4 minggu, sehingga diharapkan meningkatkan produktivitas lahan dan mendukung pendapatan masyarakat secara berkesinambungan.

Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengatakan program ini menjadi langkah strategis dalam memanfaatkan lahan salin yang kurang produktif menjadi kawasan pertanian dan perikanan bernilai ekonomi.

>>> Meksiko Hadapi Korea Selatan di Piala Dunia 2026, El Tri Lebih Diunggulkan

"Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang lebih produktif," ujarnya.