Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis (16/6/2026).

Rupiah turun 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.794 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.762 per dolar AS.

>>> KSAL: Lulusan Seskoal Jangan Terjebak Ambisi Jabatan dan Kemewahan

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Hal ini mendorong permintaan terhadap aset safe haven sehingga membatasi potensi penguatan rupiah.

Sentimen lain berasal dari penguatan dolar AS yang masih membebani mata uang negara berkembang.

Sikap Federal Reserve yang belum memberikan sinyal kuat terkait penurunan suku bunga membuat investor tetap menempatkan dana pada aset berbasis dolar.

BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026.

>>> Presiden Prabowo Panggil Seluruh Direksi Himbara ke Istana Bahas Perbankan

Suku bunga deposit facility juga naik 25 bps menjadi 4,75 persen dan suku bunga lending facility naik 25 bps menjadi 6,50 persen.

Menurut Amru, bank sentral sebenarnya memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan saat ini sambil mengevaluasi efektivitas langkah tersebut terhadap stabilitas nilai tukar dan aktivitas ekonomi.

Laju inflasi tahunan yang tercatat 3,08 persen pada Mei masih dinilai cukup terkendali.

Kendati demikian, BI memutuskan menaikkan suku bunga di tengah tingginya ketidakpastian global.

Langkah ini bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah.

>>> Komisi XIII DPR Dengar Aduan Dokter Muda soal Penahanan Sertifikat Profesi

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga melemah ke level Rp17.826 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.