"Karena itulah kami hadir di sini, melihat santri dari pimpinan pesantren Pak Kiai Yusuf Mansur, banyak yang mengirim santri-santri untuk sekolah di luar negeri.

Jadi kami juga harus hadir di sini untuk memberikan edukasi ke masyarakat," kata Hasanin.

Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran Ustadz Yusuf Mansur menanggapi positif kegiatan tersebut.

Melalui edukasi ini, ia mengaku baru mengetahui risiko yang dialami korban TPPO dan TPPM, sehingga diperlukan kerja sama dan kesadaran kolektif untuk mencegah kejahatan transnasional tersebut.

"Kami berterima kasih kepada Imigrasi, penting banget anak-anak kami dan keluarga besar kami, khususnya di Darul Qur'an menerima sosialisasi tentang bahayanya TPPO dan TPPM," kata Yusuf.

Ia menambahkan bahwa melalui sosialisasi ini, para santri dan dirinya juga memahami prosedur pembuatan paspor yang baik dan benar, serta pentingnya kejujuran pemohon dalam memberikan keterangan agar terhindar dari TPPO dan TPPM.

"Saya juga baru harus dikasih tahu, terutama tadi teman-teman menjelaskan pada saat bikin paspor harus jujur, padahal memang suka nutup-nutupin ternyata sampai sana dia bahaya dan teman-teman Imigrasi pasti lebih punya sense, lebih punya ilmu, pengalaman, pemahaman sehingga kalau santri-santri bisa jujur mereka selamat," ujar Yusuf.

Kegiatan sosialisasi dan edukasi ini diikuti lebih dari 20 santri, sementara layanan paspor simpatik diikuti 25 pemohon yang sudah mendaftar.

>>> Central Park Hadirkan Wahana Interaktif Bertema Toy Story 5

Setiap bulan, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Tangerang melakukan sosialisasi Desa Binaan Imigrasi untuk memberikan literasi kepada masyarakat tentang bahaya TPPO dan TPPM.