Di sisi lain, Irak mengalihkan pengirimannya ke Pelabuhan Ceyhan di Turki.

Volume besar komoditas energi tersebut kini lebih banyak dialirkan melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, Fujairah, serta Ceyhan.

Langkah mitigasi risiko jangka panjang ini dilakukan agar keamanan pasokan tidak lagi mudah terdampak oleh tensi geopolitik di masa depan.

Era Baru Tanpa Ketergantungan Jalur Tunggal

Meskipun Selat Hormuz kembali dibuka, negara-negara Teluk tampak enggan kembali bergantung sepenuhnya pada rute tersebut.

UEA bahkan tengah menjalankan rencana ambisius untuk memperluas jaringan pelabuhan di pesisir Teluk Oman, seperti Dibba, Fujairah, dan Khor Fakkan.

"Kami bergerak menuju kondisi nol ketergantungan pada Hormuz, terlepas dari apakah selat itu terbuka atau tidak," ujar Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA, Thani Al Zeyoudi.

Senada dengan langkah UEA, Kuwait juga sedang menjajaki kerja sama dengan Arab Saudi dan UEA untuk memperluas sistem pipa mereka agar bisa mengakomodasi ekspor melalui jalur alternatif.

Goldman Sachs mencatat bahwa ketersediaan kapal tanker bukan menjadi hambatan utama dalam pemulihan arus.

>>> AC Oulu Targetkan Kemenangan Kelima Beruntun Saat Jamu IFK Mariehamn

Kendala justru datang dari keengganan sejumlah pemilik kapal yang masih khawatir melintasi jalur yang sempat menjadi zona konflik tersebut.