"We're relying on SAP technology to transform that raw data into predictive, actionable intelligence," kata Kimando.

Penerapan ini membantu perusahaan beralih ke keandalan jaringan prediktif demi menghindari risiko ketidakstabilan operasional, inefisiensi finansial, investasi yang tidak termanfaatkan, serta risiko kepatuhan regulasi.

"Together, this strengthens our strategic positioning for the energy transition and ESG compliance," terang Kimando.

Selain sistem inti, KETRACO juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai pengganda kapasitas untuk optimalisasi jaringan yang digerakkan oleh kecerdasan data.

"AI is helping us achieve more with the same workforce. We're enabling engineers, not replacing them," ungkap Kimando.

AI tersebut mendukung tujuan keberlanjutan jangka panjang melalui simulasi skenario sebelum investasi, pengoperasian mandiri jaringan, serta peningkatan integrasi aliran energi lintas batas di pasar kekuatan Afrika Timur.

>>> Komnas HAM Temukan Indikasi Pelanggaran HAM dalam Program Makan Bergizi Gratis

"The future grid will not be defined by how much power we generate, but by how intelligently we manage it," pungkas Kimando.