>>> Kolombia Ungguli Uzbekistan 1-0 di Babak Pertama Piala Dunia 2026

Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.

Secara khusus, tanggal 10 Muharram atau hari Asyura memiliki keistimewaan tersendiri dalam sejarah Islam.

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura.

Mereka mengatakan bahwa hari itu adalah hari agung karena Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan tentara Fir'aun.

Musa berpuasa sebagai bentuk syukur, lalu Rasulullah bersabda bahwa beliau lebih berhak mengikuti Musa daripada mereka.

Rasulullah pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.

Mengenai balasan bagi yang mengamalkannya, beliau menjelaskan bahwa puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.

Anjuran Menyelisihi Tradisi Yahudi

Umat Islam juga disunnahkan untuk turut berpuasa pada tanggal 9 dan/atau 11 Muharram guna membedakan diri dari tradisi kaum Yahudi.

Rasulullah SAW bersabda agar umat Islam berpuasa pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi dengan berpuasa satu hari sebelumnya atau sesudahnya.

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, Syekh Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah merinci tingkatan keutamaan puasa ini.

Tingkatan paling utama adalah berpuasa selama tiga hari berturut-turut pada 9, 10, dan 11 Muharram, diikuti pilihan dua hari pada 9 dan 10 Muharram, serta batasan minimal yaitu hanya pada 10 Muharram.

>>> KPK Dalami Pengaturan Lelang di Kemenhub saat Periksa Dosen PTDI

Bulan Muharram 1447 Hijriyah merupakan bulan suci yang mulia. Umat Islam dianjurkan meningkatkan amal saleh, termasuk menjalankan ibadah puasa Asyura.