Selain faktor kesiapan proyek, model bisnis panas bumi di Indonesia juga dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi para pemodal.

Pendapatan dari penjualan listrik panas bumi kepada PT PLN (Persero) menggunakan denominasi dolar AS, sehingga mampu mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.

"Pembayaran revenue dari PLN untuk geothermal dilakukan dalam mata uang dolar AS.

Jadi walaupun rupiah mengalami pelemahan, tetap menarik karena tidak ada currency risk atau risiko nilai tukar yang signifikan," kata Dipo.

Kebutuhan investasi untuk mendukung transisi energi global diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Kondisi tersebut berpotensi membuka akses pendanaan yang lebih luas bagi proyek-proyek energi hijau yang memiliki prospek bisnis kuat.

>>> Harga Ethereum Melemah Dipicu Kebijakan Suku Bunga The Fed

"Transisi energi membutuhkan investasi yang besar dan berkelanjutan. Dalam konteks itu, panas bumi Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk menjadi magnet pendanaan global," ujarnya.