Pihaknya menegaskan langkah penyesuaian tersebut sangat penting demi menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.

"Kalau tidak ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional," tambahnya.

>>> Pecatur Indonesia Chelsie Monica Kalahkan Magnus Carlsen di Hong Kong

Anggia kembali memastikan bahwa pemerintah dan para pelaku usaha akan langsung merespons tren penurunan harga minyak dunia ini dengan kebijakan harga yang baru.

"Kalau ditanya harga minyak dunia akan turun nggak? Pasti nanti akan ada penyesuaian juga harga BBM nonsubsidi," beber Anggia.

Di tempat berbeda, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat turut memproyeksikan penurunan harga Pertamax dan solar nonsubsidi akibat perkembangan geopolitik global tersebut.

Menurutnya, kesepakatan damai ini melancarkan kembali jalur distribusi logistik global sehingga menekan harga minyak mentah Brent hingga di bawah US$ 80 per barel.

"Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun.

Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$ 80 gitu kan, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi," ungkap Firman kepada wartawan di kantor Kementerian PPN/Bappenas.

Firman menambahkan bahwa pasar global sebenarnya memiliki cadangan pasokan yang sangat melimpah, yakni mengalami surplus sebesar 3,8 juta barel per hari sebelum terjadinya konflik.

Masalah utama yang sempat mengerek harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel terletak pada gangguan jalur distribusi.

"Sebenarnya sebelum perang kondisi supply minyak di dunia itu sebenarnya sangat banyak, 3,8 juta barrel per day surplusnya sebelum perang gitu kan.

Nah yang terjadi nih gangguan harga kenapa bisa US$ 100 itu lebih karena distribusi gitu kan. Ketika masalah perangnya sudah selesai, distribusi Hormuz-nya bisa lebih lancar.

>>> Cara Cek PIP Mei 2026 Lewat HP untuk Siswa dan Orang Tua

Nah supply ini kan akan masih tetap banyak gitu ya," terang Firman.