Sebelumnya pada Februari, Trafford mengungkapkan rasa frustrasinya karena hanya menjadi pilihan kedua. "It (being No. 2) wasn't what I expected," cetusnya.

Ia menegaskan tekadnya untuk tetap memberikan performa terbaik. "I tried to guard against the situation happening, but it's the reality.

I know every time I play, I've got to give it my best shot and try to win and try to improve.

That's the current situation I'm in," ucapnya.

Trafford juga menyadari posisinya sebagai pelapis di klub dapat mengancam ambisinya menjadi kiper nomor satu tim nasional Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel.

"History says yeah," akunya, merujuk pada data historis bahwa penjaga gawang utama negara top selalu berstatus pilihan utama di klub.

Meskipun demikian, Trafford menilai musim lalu memberikan banyak pelajaran berharga. "It's been challenging the past season, but looking back, I've learned so much, I've developed so much.

I thought I'd had a lot of experiences up to this point in my career, but this was a new experience for me," ungkapnya.

>>> Portugal Ditahan Imbang RD Kongo pada Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Ia tidak memungkiri adanya hari-hari berat akibat minimnya menit bermain di Liga Primer. "It was tough.

Some days were harder than others, but the one thing I wanted to keep doing was keep winning and improving every day," lanjutnya.

Trafford merasa terhibur karena masih bisa berkontribusi dalam raihan dua trofi domestik.

"I kept doing that and I came out the season having played a part in winning the two trophies that we did.