Pasar saham Wall Street mengalami tekanan setelah Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal adanya potensi kenaikan suku bunga.

Indeks S&P 500 tercatat turun sekitar 1,5 persen pada Kamis (18/6/2026).

>>> Starbucks Korea Tutup Seluruh Gerai Imbas Skandal Promosi Tank Day

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun melonjak 16 basis poin menjadi 4,21 persen. Dolar AS juga menguat sebagai respons terhadap sikap hawkish bank sentral.

Sinyal kenaikan suku bunga muncul setelah The Fed menilai dampak perang Iran terhadap inflasi.

Meskipun suku bunga acuan tetap dipertahankan, proyeksi terbaru menunjukkan perpecahan di antara pejabat The Fed.

Sebanyak sembilan pejabat memproyeksikan satu kali kenaikan suku bunga tahun ini, sementara enam lainnya memperkirakan dua kali kenaikan.

Sembilan pejabat lainnya memproyeksikan tidak ada perubahan atau opsi penurunan suku bunga.

Analis eToro, Bret Kenwell, menilai proyeksi The Fed memberikan pesan penting bagi pasar.

"Pasar sudah bersiap menghadapi suku bunga yang lebih tinggi, tetapi proyeksi The Fed menunjukkan para pembuat kebijakan mungkin bersedia mempertahankan sikap yang lebih hawkish," ujarnya.

Dalam pernyataan resmi, para pejabat menegaskan inflasi masih tinggi dan berkomitmen mengembalikan stabilitas harga. Pertumbuhan ekonomi saat ini dinilai masih berada di level yang solid.

Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menegaskan stabilitas harga sebagai prinsip utama bank sentral. Ia menepis kemungkinan peninjauan kembali target inflasi sebesar 2 persen.

Goldman Sachs Asset Management menilai kebijakan hawkish ini bukan sekadar imbas dari lonjakan harga energi.

>>> Kreator Pemula Bisa Raih Penghasilan dari YouTube dengan Langkah Tepat

"Pertemuan hari ini menegaskan bahwa perubahan sikap The Fed yang lebih hawkish belakangan ini bukan hanya disebabkan oleh kenaikan harga energi," kata Kay Haigh dari Goldman Sachs Asset Management.