Petenis tunggal putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, mengaku telah menemui seorang psikiater untuk memulihkan kondisi emosionalnya setelah tersingkir di babak perempat final French Open 2026.

Pengakuan itu disampaikan Sabalenka menjelang partisipasinya dalam turnamen WTA 500 di Berlin, Jerman, seperti dilansir dari media Bounces dan Punto de Break pada Selasa, 16 Juni 2026.

>>> Citilink Bagikan Mainan Blind Box MINISO untuk Penumpang Anak di 14 Rute

Sabalenka tersingkir dari Roland Garros setelah sempat unggul 6-3 dan 4-1 atas petenis Rusia Diana Shnaider, sebelum akhirnya takluk dengan skor 3-6, 7-5, dan 6-0.

"Saya pasti butuh waktu untuk pulih setelah Roland Garros," kata Sabalenka.

Petenis asal Belarusia itu mengakui bahwa dirinya terus memikirkan hasil pertandingan yang membuatnya merasa telah melewatkan peluang besar.

"Saya banyak memikirkan pertandingan itu," ujarnya.

Kegagalan tersebut memberikan dampak psikologis yang mendalam sehingga Sabalenka memilih mencari bantuan profesional.

"Itu adalah kekalahan yang sangat berat," ucapnya.

Langkah menemui spesialis kesehatan mental ini dinilainya sebagai persiapan emosional yang wajar bagi seorang atlet profesional.

"Saya pergi menemui psikiater," kata Sabalenka.

Melalui sesi konsultasi tersebut, petenis berusia 28 tahun ini mengaku mendapatkan cara pandang baru untuk melupakan hasil buruk di Paris.

"Saya mencari cara untuk move on dari apa yang terjadi," ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya keterbukaan bagi para atlet untuk berbicara dengan orang lain saat menghadapi tekanan mental.

"Itu sangat membantu saya," ucapnya.

Menurutnya, proses memahami emosi secara aktif justru membantunya bertransformasi dari pemain yang tidak konsisten menjadi juara Grand Slam.

"Terkadang Anda perlu berbicara dengan seseorang," kata Sabalenka.