Kini, fokus Sabalenka sepenuhnya beralih ke musim lapangan rumput dan turnamen Wimbledon yang dijadwalkan mulai pada Senin, 29 Juni 2026.

"Saya banyak belajar tentang diri saya sendiri," ujarnya.

Meskipun menelan kekecewaan mendalam, ia meyakini bahwa situasi sulit ini akan membentuk mental bertandingnya menjadi lebih kuat.

"Situasi seperti ini membuat Anda lebih kuat," ucapnya.

Petenis yang mengantongi rekor menang-kalah 31-4 sepanjang musim 2026 ini bertekad segera melupakan kekalahan di lapangan tanah liat.

"Saya tidak bisa terus memikirkannya," kata Sabalenka.

Sebelumnya, dalam konferensi pers sesaat setelah kekalahannya di Paris, Sabalenka sempat mengungkapkan keputusasaannya.

>>> Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 1 Persen

"Saya harus move on," ujarnya.

Tekanan berat yang dirasakan para bintang tenis dunia sering kali memicu kerentanan emosional yang tidak terlihat dari luar lapangan.

"Terkadang Anda hanya perlu menerima apa yang terjadi," ucap Sabalenka.

Analisis dari Mantan Petenis dan Pelatih

Mantan petenis nomor satu dunia, Kim Clijsters, memberikan analisis tajam mengenai performa Sabalenka melalui podcast Love All pada Kamis, 11 Juni 2026.

"Dia benar-benar menyabotase dirinya sendiri.

Ini menunjukkan bahwa seberapa baik pun Anda bermain atau apa pun yang telah Anda menangkan di masa lalu, tidak masalah siapa yang Anda lawan, mereka punya peluang karena kita semua, kadang-kadang, merasa tidak bermain bagus," kata Clijsters.

Clijsters menilai Sabalenka terlalu terobsesi pada kesempurnaan, yang justru menjadi bumerang ketika bermain di atas permukaan tanah liat yang sulit diprediksi.

"Tapi kemudian Anda melihat dia menyabotase dirinya sendiri dan membuat dirinya ragu karena segala sesuatunya tidak berjalan sempurna.