Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka mengaku telah berkonsultasi dengan psikiater di Berlin, Jerman, pada Senin, 15 Juni 2026.

Langkah ini diambilnya untuk mengatasi tekanan emosional setelah tersingkir secara mengejutkan di babak perempat final Roland Garros.

>>> Real Betis Incar Marc Casado untuk Rombak Lini Tengah

Sabalenka kalah dari Diana Shnaider, petenis berusia 22 tahun, dengan skor 3-6, 7-5, 6-0. Padahal ia sempat memimpin 6-3 dan 4-1, sebelum kehilangan 12 dari 13 game terakhir.

Kekalahan itu disebutnya sangat memukul. "It was a very tough defeat," ujar Sabalenka, seperti dikutip dari Punto de Break.

Ia mengaku terus memikirkan jalannya pertandingan di Paris. "I was thinking a lot about that match," katanya.

Sabalenka memutuskan mencari bantuan profesional untuk mempercepat pemulihan emosional. "I went to see a psychiatrist," ungkapnya.

Melalui sesi terapi, ia merasa mendapatkan perspektif baru. "It helped me a lot," aku Sabalenka.

Ia menegaskan bahwa berdiskusi dengan orang lain adalah hal wajar bagi atlet yang mengalami kebuntuan mental. "Sometimes you need to talk to someone," ucapnya.

>>> Matheus Nunes Ungkap Alasan Pilih Timnas Portugal daripada Brasil

Kini fokus Sabalenka beralih ke turnamen rumput WTA 500 Berlin sebagai persiapan menuju Wimbledon. "I can't keep thinking about it," tuturnya.

Ia menekankan pentingnya segera bangkit untuk mempertahankan posisi puncak peringkat WTA. "I have to move forward," tegasnya.

Sabalenka juga berkelakar kepada jurnalis Ben Rothenberg di Berlin. "I'm just trying to dig deep in my brain—which is probably not a good idea," candanya.

Komentar Kim Clijsters dan Venus Williams

Mantan petenis nomor satu dunia Kim Clijsters menilai Sabalenka melakukan sabotase diri. "She completely self-sabotaged it," analisis Clijsters dalam siniar Love All.

Menurut Clijsters, ambisi Sabalenka terhadap kesempurnaan menjadi bumerang di lapangan tanah liat. "She completely destroyed herself," tambahnya.

>>> Jadwal Piala Dunia 2026 Kamis: Portugal vs Kongo, Inggris vs Kroasia

Sementara itu, Venus Williams menunjukkan empati atas reaksi frustrasi Sabalenka yang sempat ingin menyudahi karier tenis. Williams menilai ucapan itu manusiawi dan bukan indikasi pensiun sungguhan.