Aspek edukasi sejarah visual ini diharapkan mampu menyentuh para pemain yang saat ini tengah membela panji Green Force.

“Agar sejarah tetap diingat di pikiran teman-teman Bonek sekaligus pemain-pemain Persebaya saat ini,” imbuhnya.

>>> Carlos Queiroz Targetkan Kemenangan Ghana Atas Panama di Piala Dunia

Mural ini juga membawa pesan inklusivitas sosial di tengah latar belakang masyarakat kota yang sangat majemuk.

“Surabaya tempatnya berbagai macam budaya. Kami mencoba menanamkan sejak dini bahwa Persebaya bisa dicintai oleh siapa pun.

Meskipun dari kalangan budaya yang berbeda,” katanya.

Bagi Wahyudi, media mural menjadi sarana ekspresi yang sangat efektif untuk mempererat hubungan emosional antarpendukung.

“Namun adanya mural ini bisa saling menyemangati antar Bonek maupun mendukung tim kebanggaan Persebaya.”

Ia juga merasa puas karena karya seni jalanan ini mampu memberikan kontribusi nyata bagi penataan estetika visual kota.

“Kepuasannya tersendiri dengan adanya mural kami bisa menunjukkan ekspresi bagaimana menyambut anniversary Persebaya sekaligus untuk mempercantik kota Surabaya dengan mural,” kata Muhammad Wahyudi.

Komunitas BIMS berharap agar ke depan ruang-ruang publik di Surabaya dapat terus dioptimalkan sebagai pusat pengembangan karya seni rupa modern.

“Tentunya harapan sebagai muralis, Surabaya bisa menjadi salah satu kota dengan pusat seni dan juga bisa memperluas jaringan mural Surabaya bisa bekerja sama dan mempercantik kota,” pungkasnya.

Di sisi lain, perayaan juga diwarnai aksi kemanusiaan oleh Komunitas Bonek Persebaya ABG (Amazing, Brave, and Glorious) yang mengumpulkan 180 anggotanya dari berbagai daerah untuk menggelar doa bersama dan santunan di Panti Asuhan Bonek pada Selasa (16/6/2026).

Selain menyalurkan donasi, komunitas ini membeli produk makanan dari tujuh pelaku UMKM di sekitar Stadion Gelora Bung Tomo sebelum melaksanakan pertandingan sepak bola persahabatan di stadion tersebut.