Kendati demikian, kontribusi dari segmen feronikel ini relatif kecil terhadap total pendapatan perseroan.

Potensi revisi RKAB pada pertengahan tahun juga diingatkan dapat memicu volatilitas harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) bijih nikel dalam jangka pendek.

Pergerakan harga emas global tetap menjadi faktor penentu dari sisi sentimen pasar.

>>> Kebakaran Hanguskan Tujuh Kios di Pasar Tulikup Gianyar

Harga emas yang bertahan pada level tinggi dinilai mampu menjadi penyangga utama bagi laba ANTM.

Di sisi lain, kuota produksi nikel yang lebih besar memberikan kepastian terkait volume penjualan perseroan hingga akhir tahun.

Beberapa risiko eksternal juga perlu diwaspadai oleh para investor.

Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya energi impor, sedangkan ketidakpastian permintaan nikel dari China dapat memengaruhi harga jual bijih nikel.

Risiko kebijakan dari pemerintah turut menjadi perhatian utama dalam operasional perseroan.

Kenaikan tarif royalti dinilai sebagai skenario yang paling berisiko karena berdampak langsung terhadap seluruh lini bisnis bijih nikel yang menjadi kontributor terbesar pendapatan ANTM.

"Royalti menjadi risiko terbesar karena berdampak langsung terhadap profitabilitas bisnis nikel ore.

Sementara windfall tax masih sulit diestimasi, namun dampaknya dapat signifikan apabila harga emas tetap tinggi," kata Abida.

Penurunan ASP bijih nikel sebesar 10% diperkirakan berpotensi memangkas laba bersih sekitar Rp 1,3 triliun.

Hal tersebut juga dapat menurunkan valuasi wajar saham ANTM menjadi sekitar Rp 4.200 per saham.

Meski begitu, ANTM dinilai masih menjadi pilihan utama di sektor logam.

Saham ANTM saat ini diperdagangkan di bawah rata-rata historis lima tahunnya yang berada di level 12,9 kali, dengan proyeksi price to earnings ratio (PER) 2026 sebesar 10,1 kali.

"Kombinasi pertumbuhan laba yang solid, eksposur terhadap harga emas dan nikel, serta risiko regulasi yang relatif lebih terkelola dibandingkan emiten sejenis menjadi daya tarik utama ANTM," ujar Abida.

>>> Kementan Targetkan Swasembada Bawang Putih dalam Tiga Tahun

Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, rekomendasi untuk saham ANTM dipertahankan beli (buy). Target harga yang ditetapkan untuk saham emiten pertambangan ini berada di level Rp 4.800 per saham.