Tingkat inflasi medis di Indonesia diperkirakan mencapai 17,8 persen pada tahun 2026, menjadikannya yang tertinggi di Asia.

Angka ini melampaui rata-rata kawasan yang berada di level 12,5 persen, berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026.

>>> Laba Bersih ANTM Melesat 61,9 Persen pada Kuartal I 2026

Kenaikan biaya layanan kesehatan yang terus terjadi dari tahun ke tahun membuat perlindungan finansial seperti asuransi semakin penting bagi masyarakat.

Lonjakan ini tidak hanya dipicu oleh inflasi umum, tetapi juga oleh kemajuan teknologi kedokteran dan tingginya permintaan akan fasilitas kesehatan modern.

Data Allianz Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan biaya perawatan penyakit kritis antara 2020 hingga 2025.

Biaya penanganan penyakit jantung melonjak 219 persen, perawatan kanker naik 179 persen, dan penanganan stroke meningkat 169 persen.

Faktor ekonomi global, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah, turut mendorong kenaikan ini.

Sebagian besar alat kesehatan dan bahan baku obat masih diimpor, sehingga meningkatkan beban operasional penyedia layanan medis dan berdampak pada biaya yang ditanggung pasien.

Penyakit Jantung Mengintai Usia Produktif

Penyakit tidak menular, terutama gangguan jantung, kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.

>>> 5 Alasan Galaxy Z Fold 8 Ultra Layak Dinantikan

JP(K), FIHA, menyebutkan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres, pola makan buruk, dan merokok.

Kondisi ini memerlukan penanganan rumit yang berpotensi menimbulkan beban finansial besar. "Banyak faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini.

Namun, ketika risiko terjadi, penanganannya sering kali membutuhkan tindakan kompleks dan biaya tidak sedikit," ujar dr. Bayushi dalam media workshop pada Rabu, 17 Juni 2026.