Capaian ini menunjukkan kenaikan 105% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat penjualan 4 hektare dengan nilai Rp 88 miliar.

Hingga triwulan pertama, akumulasi backlog penjualan lahan dari SCS mencapai Rp 727,4 miliar untuk area seluas 46,3 hektare.

Dari total tersebut, 35,6 hektare senilai Rp 524,1 miliar telah resmi dibukukan.

Dari sisi laporan keuangan, emiten berkode SSIA ini mengantongi pendapatan usaha Rp 1,44 triliun, naik 35% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,07 triliun.

Perseroan juga mencatat laba bersih Rp 89,01 miliar pada kuartal pertama, berbalik dari kerugian bersih Rp 21,70 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Pengembangan kawasan Subang Smartpolitan diproyeksikan tetap menjadi pendorong utama ekspansi bisnis. Erlin menambahkan bahwa ketertarikan terhadap area industri ini masih didominasi pemodal dari Asia.

Perseroan meyakini target marketing sales dapat terpenuhi hingga akhir tahun.

>>> LIF Indonesia dan Actxa Luncurkan Smart Ring dengan AI Glucose Scan

"Kami melihat peningkatan marketing sales akan lebih banyak terjadi di semester kedua seiring membaiknya konflik di Timur Tengah," paparnya.