Jayrius Ong, seorang sopir bus SMRT asal Singapura, harus berjuang melawan gagal ginjal stadium akhir yang didiagnosis saat usianya baru 21 tahun.

Kini di usia 23 tahun, ia bergantung pada terapi dialisis atau cuci darah sebanyak dua kali seminggu untuk menjaga fungsi ginjalnya.

>>> Tiga Bank Kucurkan Kredit Sindikasi Hijau Rp 4,7 Triliun ke Plaza Indonesia

Kisah perjuangannya dibagikan melalui akun TikTok pribadinya, @_my. nightroutine.

_.

Proses Cuci Darah yang Menguras Energi

Darah Jayrius ditarik keluar melalui selang kateter yang ditanam di dadanya, lalu dialirkan ke mesin pembersih untuk menyaring limbah dan cairan berlebih.

Setelah itu, darah dipompa kembali ke tubuhnya. Prosedur ini menimbulkan efek samping seperti kram hebat di kaki jika volume cairan yang dikeluarkan terlalu banyak.

"Anda selalu merasa lelah setelah sesi dialisis," ujar Jayrius kepada Must Share News.

Kelelahan ekstrem dan beban psikologis sempat membuatnya mengalami depresi berat hingga kehilangan semangat hidup.

>>> Tiga Bank Kucurkan Kredit Sindikasi Rp4,7 Triliun ke Plaza Indonesia

Hampir Gagal Menjadi Sopir Bus

Saat berusia 21 tahun, Jayrius menjalani tes kesehatan untuk menjadi sopir bus. Hasilnya justru menunjukkan ia mengidap gagal ginjal stadium akhir.

Awalnya ia tidak percaya dan menduga rumah sakit salah diagnosis. "Saya tidak terlalu percaya pada apa yang saya alami," kenangnya.

Meski demikian, Jayrius berhasil diterima sebagai sopir bus. Ia mengambil shift sore hingga pukul 1 pagi agar tetap bisa menjalani pengobatan rutin.

Mencari Donor Ginjal

Jayrius kini tengah mencari donor ginjal melalui media sosial. Ia berharap bisa menjalani transplantasi pada kuartal ketiga tahun 2026.

Langkah ini sangat penting karena kateter di dadanya berisiko tinggi menyebabkan infeksi mematikan.

Ia pernah mengalami demam dan menggigil hebat akibat infeksi kuman hingga harus menjalani operasi darurat penggantian kateter.

>>> Aktivitas Pelayaran Selat Hormuz Masih Terbatas Pascadamai AS-Iran

"Transplantasi akan berarti segalanya. Saya bisa merasa seperti mendapatkan kembali seluruh kehidupan normal saya," pungkasnya.