Ketiga, outlook negatif terhadap utang pemerintah yang dikeluarkan oleh pemeringkat global Moody's dan Fitch Rating.

Keempat, review MSCI yang menghapus enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeksnya membuat asing ramai-ramai hengkang.

Sektor yang paling terdampak oleh kebijakan Trump adalah industri tekstil.

Namun, sektor itu selama ini bukan menjadi tujuan utama investor asing karena tingkat pengembalian investasi yang relatif rendah dibandingkan sektor lainnya di pasar modal Indonesia.

>>> BCA Terapkan Manajemen Risiko Disiplin untuk Jaga Kualitas Kredit

Meski demikian, Faris mengakui industri tekstil memiliki karakteristik padat karya sehingga tetap memiliki peran penting bagi perekonomian nasional.

“Sektor yang terdampak adalah tekstil, tentu sektor ini tidak favourable untuk asing karena bisnis dengan ROI yang rendah, meskipun kami tidak menampik bahwa sektor ini padat karya,” pungkas dia.

Lebih lanjut, Faris mencatat sektor tekstil juga menjadi sektor yang paling terekspos terhadap pasar AS.

Kendati, bobot saham-saham tekstil dalam komposisi IHSG relatif kecil sehingga pelemahan kinerja sektor tersebut diperkirakan tidak akan memberikan tekanan besar terhadap indeks secara keseluruhan.

“Ekspor ke AS tereksposur pada sektor tekstil, dan bobotnya di indeks tidak signifikan. Sehingga hal ini tidak berdampak pada IHSG jatuh signifikan,” kata Faris.

Untuk diketahui, rencana AS mengenakan tarif impor baru terhadap sejumlah produk Indonesia berpotensi menekan kinerja ekspor manufaktur nasional.

Tidak hanya mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko mempengaruhi tingkat utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.

Kekhawatiran itu muncul seiring rencana penerapan tarif tambahan berbasis Section 301 Trade Act of 1974 yang akan diberlakukan secara bertahap mulai 24 Juli 2026.