Tren penguatan ini tidak lagi didominasi oleh negara berkembang. Sekitar 18 persen bank sentral dari negara maju juga berencana meningkatkan kepemilikan emas mereka tahun depan.

WGC mencatat ada 31 dari 34 bank sentral memilih diversifikasi sebagai motivasi utama di samping kebutuhan lindung nilai.

"Faktor yang paling relevan tahun ini adalah kinerja emas selama masa krisis. Bahkan, ini lebih relevan dari sebelumnya," kata Shaokai Fan.

Aset emas kini dinilai lebih tinggi oleh institusi keuangan dunia karena kemampuannya dalam menjaga nilai investasi jangka panjang saat terjadi guncangan geopolitik.

>>> Pertamina Jelaskan Struk Pertalite Rp18.040 per Liter di SPBU

"Bank sentral lebih menghargai kinerja emas selama masa krisis, peran emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang, emas sebagai diversifikasi portofolio, dan kemampuan emas sebagai lindung nilai geopolitik," pungkas Shaokai Fan.