Saya bangga menjadi orang Inggris, Pakistan, dan Irak," katanya.

"Saya memilih bermain untuk Irak bukan berarti saya tidak bangga menjadi Mancunian atau Pakistan.

Ini adalah langkah yang tepat untuk karier saya, tetapi tidak menghilangkan fakta bahwa saya juga Mancunian dan Pakistan," tambahnya.

Meskipun baru menjalani musim yang mengecewakan di FC Utrecht akibat cedera lutut, Iqbal tetap bertekad memberikan pengaruh positif.

Ia berterima kasih kepada asisten pelatih kepala Graham Arnold, René Meulensteen, yang membagikan pengalamannya dari kualifikasi Australia.

"Pemain baru akan mengagumi kami karena kami telah melakukannya, dan begitulah cara meneruskannya dari generasi ke generasi.

Semoga lolos ke Piala Dunia menjadi hal yang biasa di Irak," lanjut Iqbal.

Ia berharap anak-anak Irak, Asia, dan Arab yang menonton Piala Dunia melihatnya dan menyadari bahwa itu mungkin. "Saat saya tumbuh besar, saya tidak punya panutan.

Jika Anda melihat seseorang yang mirip dengan Anda, hal itu lebih menyentuh hati," sambungnya.

Peluang Irak di Grup I

Irak tergabung dalam Grup I bersama Prancis, Senegal, dan Norwegia. Menghadapi lawan berat, Iqbal menilai status underdog menguntungkan Irak.

"Prancis punya segalanya untuk dipertaruhkan. Kami masuk tanpa tekanan.

Mereka yang harus mengalahkan kami," tegasnya.

"Kami pergi ke sana tanpa tekanan. Jika kalah, orang memang mengharapkan itu.

Tapi jika menang, kami akan mengejutkan dunia," pungkas Iqbal.

Pencapaian ini memicu dukungan besar dari komunitas sepak bola Pakistan.

Ahmed Shahzad, pengelola akun Pakistani Talents, mengatakan kepada BBC Sport bahwa setiap penggemar sepak bola Pakistan tahu tentang Zidane Iqbal.

"Melihat seseorang secara terbuka merangkul identitasnya membuat sepak bola terasa lebih mungkin bagi kami yang berlatar belakang Pakistan," katanya.

Dampak psikologis juga dirasakan pemain klub lokal Pakistan. Faheem, pemain dari Lembah Hunza, mengatakan kepada Muslim Network TV bahwa kisah Zidane sangat menginspirasi.

"Kami merasa mungkin suatu hari nanti kami juga bisa berhasil," ujarnya.

Namun, fenomena ini memicu kritik terkait minimnya infrastruktur sepak bola di Pakistan.

Ibrahim, pemain klub asal Karachi, mengatakan, "Saya senang untuk Zidane, tetapi kasusnya juga menunjukkan bahwa jika ingin berhasil, Anda harus mewakili tim lain.

Kami ingin melihat pemain dengan warna kami sendiri. Kami ingin melihat Pakistan di panggung besar."

>>> Ronaldo Kritik Taktik Ancelotti Usai Brasil Imbang Lawan Maroko

Sebelum melakoni pertandingan perdana melawan Norwegia, timnas Irak dijadwalkan menjalani satu pertandingan persahabatan melawan Venezuela.