Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengungkapkan penyebab penumpukan sekitar 10 ribu kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Senin (15/6/2026).

Penumpukan terjadi karena perusahaan importir tidak segera memindahkan barang yang telah selesai diurus administrasinya.

>>> Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 5,4 Persen pada 2026

Masalah ini disoroti karena melibatkan sejumlah perusahaan otomotif, termasuk BYD dan Wuling.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama menjelaskan situasi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta.

"Ketika kontainer-kontainer sudah mengalami pengeluaran barang, ini masih terjadi penumpukan karena para pelaku tidak dengan segera melakukan pengeluaran," kata Djaka.

Beberapa produsen mobil memanfaatkan batas waktu fasilitas penumpukan gratis secara berlebihan.

"Contohnya seperti BYD, kemudian dari Wuling itu masih memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pelabuhan selama 3 hari setelah SPPB keluar.

Malah bahkan lebih dari 2 minggu dia tidak angkat keluar. Kemarin itu hampir sekitar 10 ribu kontainer yang masih ada di pelabuhan," tegas Djaka.

Berdasarkan data Gaikindo, Wuling tidak melakukan impor CBU, melainkan melalui induk perusahaannya, PT SAIC Motor Indonesia, yang mengimpor merek Morris Garage sebanyak 1.205 unit pada 2024, 122 unit pada 2025, dan 53 unit pada Januari-Mei 2026, serta 1.385 unit CKD Set.

>>> HokBen Tawarkan Promo Gratis Fried Chicken Sepanjang Mei 2026

Sementara itu, BYD mencatat impor CBU sebanyak 16.767 unit pada 2024, melonjak menjadi 64.013 unit pada tahun lalu, dan 358 unit pada Januari-Mei 2026.

DJBC mengambil langkah tegas dengan memaksa seluruh perusahaan importir untuk segera mengosongkan kontainer dari kawasan pelabuhan.

"Kita melakukan pemaksaan kepada perusahaan tersebut untuk dengan secepatnya melakukan pengeluaran dari area pelabuhan atau bukan di area kepabeanan," ucap Djaka.

Faktor efisiensi biaya internal perusahaan disinyalir menjadi alasan area pelabuhan dijadikan tempat penyimpanan sementara.

Otoritas kini tengah mempersiapkan skema pemindahan lokasi penyimpanan logistik guna menghindari kemacetan berulang.

"Karena kesulitan tempat di luar sehingga mereka mengingat cost lebih murah daripada di luar, mereka memanfaatkan itu.

>>> MPL Indonesia Lanjutkan Kolaborasi Creative Playground untuk Sektor Kreatif

Mungkin ke depannya kita akan segera mendorong mereka ke lini dua, di tempat luar pelabuhan," tutur Djaka.